• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Mg 25 06 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back S|U|M|A|T|E|R|A Kawasan Terpilih Aceh Irwandi: Proyek Tak Selesai, Siap Masuk Penjara

Irwandi: Proyek Tak Selesai, Siap Masuk Penjara

  • PDF

Proyek pembangunan pusat pemerintahan Aceh Timur di kawasan Titi Baro, Idi Rayeuk, telantar. Keterlibatan tangan siluman oknum tertentu yang mengambil manfaat dari mega proyek itu diduga menjadi penyebab proyek tak kunjung selesai. Terkait terlantarnya proyek Rp130 miliar itu , Gubernur Aceh Irwandi Yusuf mengatakan jika proyek tidak selesai akhir 2011, bakal ada yang masuk penjara.

Irwandi mengungkapkan itu saat kunjungan kerja ke Pelabuhan Perikanan Pantai (P3 Idi), baru-baru ini di Kuala Idi. Menurut Irwandi, sebelum mengakhiri tanggapan wartawan, sesuai laporan yang diterima, proyek tersebut harus selesai tahun 2011.

“Jika tidak, maka bakal ada orang yang masuk penjara untuk mempertanggungjawabkan Rp130 miliar itu,” kata Irwandi Yusuf lagi seraya melimpahkan jawaban lebih lanjut kepada Wakil Bupati Aceh Timur, Nasruddin AB, yang mendampinginya ke P3 Idi.

Wabup Aceh Timur, Nasruddin AB mengiyakan, proyek yang anggarannya dari pusat itu, kini terlantar. Padahal waktu yang tersisa hanya beberapa bulan lagi hingga Desember 2011. “Itu tinggal menunggu pihak kontraktor sesuai kontraknya, akhir 2011 harus rampung,” katanya.

Nasruddin menyebutkan, masyarakat diminta mengikuti dan melihat perkembangan dari proyek itu, kini masih proses. “Kita lihat saja bagaimana prosesnya,” ujarnya.

Ketika disinggung setelah terhenti pembangunan sejak akhir 2010 lalu hingga kini belum ada tanda akan dimulai pembangunan kembali, Nasruddin mengulangi penegasan gubernur, bahwa pihak kontraktor harus menyelesaikan proyek tersebut dalam 2011 ini.

Sementara Kepala Cabang PT Trilion Glory Internasional (TGI), Syamsuddin,  saat diminta keterangan secara terpisah menolak berkomentar terkait kondisi terakhir proyek pembangunan Pemkab Aceh Timur di Idi. Lebih-lebih kesan di tengah masyarakat proyek itu telah terhenti total, padahal tidak seluruhnya demikian.

Tetapi saat disinggung isu yang beredar Syamsuddin,  telah mengundurkan diri dari PT TGI, dia membenarkan, namun pimpinannya hingga kini belum mengabulkannya. “Saya sudah kirimkan surat pengunduran diri dari PT TGI, tapi pimpinan belum mengabulkannya,” kata Syamsuddin.

Informasi yang beredar, proyek Rp130 miliar itu kini sudah dalam proses penyerahan kelanjutan pembangunannya terhadap dua perusahaan lain di luar Aceh. “Proyeknya masih ditangan PT TGI, tapi yang mengerjakannya perusahaan lain,” sebut sumber.

Ketua DPRK Aceh Timur, Tgk Alauddin  mengatakan, selaku wakil rakyat diharapkan pembangunan pusat perkantoran Pemkab Aceh timur di Idi segera selesai, sehingga seluruh kantor/dinas/badan yang kini masih di Langsa, agar segera berkantor Idi, sebagai harapan masyarakat sejak pemekaran.

Bupati Aceh Timur, Tgk. Muslim Hasballah melalui Sekdakab Aceh Timur, Syaifannur, bahwa proyek dimaksud akan segera dilanjutkan pembangunannya, namun dengan melibatkan perusahaan lain. “Ya benar ada perusahaan lain dalam proses kelanjutan proyek ini, tapi ini semua untuk memperkuat dalam kerjasama,” tandas Sekda.

Di sisi lain, Ketua Asosiasi Kontraktor Aceh (AKA) Aceh Timur, Abdul Hadi Abidin, mengatakan, seharusnya pemerintah setempat mengutamakan rekanan lokal yang menangani proyek tersebut untuk menghindari penelantaran. “Kita sesalkan itu. Jika rekanan lokal mereka pasti punya tanggung jawab moral untuk daerah. Nah, kalau rekanan dari luar mau peduli apa mereka,” kata Abdul Hadi.

Kasus telantarnya pusat pemerintahan seperti yang terjadi saat ini, terangnya, merupakan langkah mundur pembangunan dan membuat citra kurang baik di mata masyarakat Aceh Timur tentang mega proyek tersebut. “PT TGI terkesan seperti siluman, timbul dan tenggelam. Agar masalah ini tidak berlarut-larut, diharapkan aparat penegak hukum turun tangan,” demikian Abdul  Hadi.