• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Mg 25 06 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back S|U|M|A|T|E|R|A Kawasan Terpilih Sumsel Ishak Mekki dalam Pusaran Sengketa Lahan

Ishak Mekki dalam Pusaran Sengketa Lahan

  • PDF

Bupati Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, Ishak Mekki di hari-hari ini pasti sibuk mengurus masalah kebun di Kecamatan Mesuji. Masalahnya, pada Kamis, 21 April 2011 lalu, tujuh orang tewas dalam bentrok antara warga dengan karyawan perkebunan kelapa sawit PT Sumber Wangi Alam.

Kabarnya, warga Desa Sungai Sodong menyerbu pabrik dan rumah karyawan perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan kelapa sawit. Mereka bergabung dengan warga Desa Pagar Dewa, Desa Sungai Tepuk, dan Desa Pematang Panggang. Sedangkan PT Sumber Wangi Alam tercatat beralamat di Palembang.

Di sisi lain, Komnas HAM sangat menyesalkan sikap Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) Ishak Mekki yang lamban mendeteksi benih kekerasan dari konflik lahan di Mesuji, OKI, Sumatra Selatan. Konflik itu akhirnya berujung pada bentrokan dan mengakibatkan tujuh orang tewas.

"Kami mendengar kasus lahan antara PT SWA dengan warga Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, OKI, sudah lama berlangsung. Bahkan sebelumnya ada panen massal terhadap kebun sawit yang dilakukan warga di atas lahan yang tengah disengketakan," kata anggota Komnas HAM Nurkholis yang juga mantan Direktur LBH Palembang.

"Jadi, sejak awal sudah dapat dideteksi kemungkinan adanya kasus kekerasan. Maka kami sangat menyesalkan lambannya sikap Bupati OKI terhadap kasus tersebut," lanjut Nurkholis.

Nurkholis mendesak Bupati OKI bertanggungjawab dengan segera menyelesaikan bentrokan tersebut. Komnas HAM juga meminta pihak kepolisian semaksimal mungkin mencegah meluasnya bentrokan. "Polisi harus mampu mencegah konflik jangan sampai meluas, sehingga harus hati-hati dalam mengambil tindakan atau tidak terkesan diskriminatif dalam penegakan hukum," ujar Nurkholis.

Menurut Nurkholis, Komnas HAM dalam waktu dekat akan menurunkan tim ke lokasi konflik. "Saat ini kami mengumpulkan data awal, dan secepatnya akan turun ke lapangan. Kami menduga adanya pelanggaran HAM dalam kasus ini," ungkapnya.

Sedangkan Ishak Mekki membantah dirinya lamban mencegah atau mendeteksi konflik itu. "Saya panggil warga dan perusahaan. Saya minta perusahaan mengalah sedikit, begitu pun dengan warga. Keduanya sepakat dengan hal tersebut," kata Ishak.

Menurut Ishak, di tengah penyelesaikan kondlik, pihak perusahaan melakukan panen raya, termasuk di lahan yang dipersoalkan warga. Pada saat berusaha ditegur warga, pihak keamanan perusahaan merasa tidak senang lalu terjadi keributan. "Begitupun dengan warga lain yang datang. Nah, melihat ada warganya yang tewas, tentu saja masyarakat di sana marah. Akhirnya ada korban di kedua pihak. Saya sangat menyesalkan hal ini, saya sedih," ucap Ishak.

Ishak menjelaskan, sudah melakukan tiga kali mediasi dalam menyelesaikan persoalan tersebut. Ia juga menegaskan sudah melaporkan persoalan tersebut kepada unsur Muspida di Sumsel, termasuk pula ke Kapolda Sumsel.

"Jadi tidak benar saya lamban atau tidak mengurusi persoalan ini. Itu, sekali lagi, saya sangat terkejut, persoalan sudah ada titik temu, eh, tiba-tiba muncul persoalan tersebut," kata Pak Bupati OKI ini.

Cerita dari Lokasi

Informasi yang dihimpun dari lokasi, bentrokan warga dengan PT SWA di Desa Sungai Sodong menyebabkan tujuh orang tewas. Dua orang yang tewas diketahui bernama Syafei, 18, dan Matcan bin Sulaiman, 21,warga Sungai Sodong,Kecamatan Mesuji.Sementara yang tewas dari pihak PT SWA berjumlah lima orang, antara lain satpam dan asisten manajer kebun yang dibunuh di depan keluarganya.

Pantauan di lokasi, hingga Jumat malam, 22 April 2011, situasi di lokasi masih mencekam. Seluruh karyawan PT SWA berlari meninggalkan rumah sehingga lokasi pabrik masih dikuasai warga.

Lantas apa yang menjadi motif keributan? Diduga warga Desa Sodong sejak beberapa bulan ini memanen buah sawit milik PT SWA. Warga melakukan itu karena mereka mengklaim kebun sawit tersebut adalah jatah warga, bukan milik inti perusahaan.

Dari satu versi informasi, penyerangan bermula dari perkelahian antara dua warga Desa Sungai Sodong, Kecamatan Mesuji, Kabupaten OKI, dan anggota pengamanan swakarsa Wira Sandi yang mengamankan areal perkebunan yang diklaim milik PT SWA. Belakangan diketahui dua warga itu adalah Syafei dan Matcan bin Sulaeman.

Sekitar pukul 12.00 Kamis siang itu, rombongan karyawan dan buruh PT SWA yang selesai panen dengan pengawalan pam swakarsa dicegat dua warga dari Desa Sungai Sodong. Diduga terlibat ribut mulut dan terjadilah perkelahian. Satu warga Desa Sungai Sodong terluka parah dan akhirnya meninggal dunia saat dilarikan ke puskesmas terdekat.

Sedangkan satu warga lainnya juga ikut terluka. Satu anggota pam swakarsa Wira Sandi bernama Akbar juga meninggal dunia setelah dilarikan ke Klinik Dabukrejo. Satu warga Desa Sungai Sodong yang terluka yang berhasil melarikan diri ke kampungnya memberitahukan kejadian tersebut kepada warga lainnya.

Versi lain, menurut Chican Syafei, tokoh masyarakat Sungai Sodong, bentrokan berawal saat PT SWA menyewa sekitar 40 preman dengan maksud menduduki lahan perkebunan sawit seluas 298 hektare yang diklaim warga masih status quo karena dalam tahap mediasi oleh Pemkab OKI. “Cucu H Jalal yakni Syafei mendatangi serta memperingatkan orang bayaran PT SWA agar tidak menduduki lokasi,karena status kepemilikan lahan masih status quo,”tuturnya.

Peringatan Syafei justru disambut dengan perkelahian. Orang suruhan PT SWA lalu menembak dan menggorok leher Syafei hingga tewas di tempat. “Saat kejadian seorang warga, Matcan bin Sulaiman, lewat dan melihat kejadian tersebut,”tuturnya. Karena tidak terima, perkelahian antara Matcan dan orang bayaran tersebut tak dapat dihindari.

Matcan pun tewas dengan kondisi kuping terpotong. Tak lama kemudian warga Sungai Sodong mengetahuinya dan beramai- ramai mengevakuasi kedua mayat tersebut. Selanjutnya, warga Desa Sungai Sodong beramai-ramai mendatangi Kantor PT SWA yang berjarak sekitar 3-4 km. Warga datang ke perusahaan dengan menggunakan truk yang dilengkapi senjata api jenis FN, kecepek laras pendek dan panjang, serta parang.

Di kantor tersebut ada beberapa satpam yang menghalang- halangi sehingga terjadi bentrokan berdarah. “Korban meninggal dipastikan lima orang, dua dari warga tiga dari satpam.Tapi, ada kabar, yang meninggal dari pihak satpam lima orang,” ungkapnya.

Saat situasi tidak memungkinkan, seluruh pegawai PT SWA mengosongkan kantor dan memilih mengungsi ke PT Treekreasi Marga Mulia (TMM) yang berada tidak jauh dengan PT SWA. Pascabentrokan, Desa Sungai Sodong sangat mencekam, termasuk Desa Pagar Dewa dan Desa Pematang Panggang yang bersebelahan.“Karena masih emosi,warga mensweeping semua orang yang lewat,” tambahnya.

Kapolres OKI AKBP Agus Fatchullah melalui Kasat Reskrim OKI AKP Roxy Marpaung membenarkan kejadian tersebut. Namun,dia belum dapat memberikan keterangan pasti karena personel polres baru akan masuk hari ini. “Daerah tersebut lokasinya jauh sehingga tidak memungkinkan. Kita tunggu besok pagi (hari ini), sambil membuat suhu mendingin dahulu,” tuturnya. Meski demikian, aparat Polsek Mesuji telah turun ke lapangan untuk memediasi warga dan meredakan emosinya agar tidak bertindak lebih jauh.

Kepala Polda Sumatera Selatan Irjen Pol Hasyim Irianto melalui Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Sabaruddin Ginting SIk mengatakan hingga sore kemarin, pihaknya menurunkan personel ke lokasi kejadian. "Saat ini sedang dilakukan upaya-upaya kepolisian dari Polres OKI dan jajaran polseknya. Kita (Polda Sumsel, red) sudah menurunkan personel Satuan Brimob dengan memback up langsung ke lokasi kejadian," jelas Ginting melalui pesan singkatnya Jumat malam.

Tambahan Informasi

Diakui atau tidak sengketa hak atas lahan terutama perkebunan antara warga dan perusahaan menjadi salah satu tipikal kondisi di Sumatera Selatan. Boleh jadi, hal seperti ini berlangsung pula di daerah lain, namun belum terungkap ke permukaan saja. Pasalnya, Dirjen Perkebunan menyatakan bahwa data konflik antara warga dan perusahaan menggunung di kantornya.

Nah, di Sumsel, menurut LBH Palembang, sepanjang 2010 tercatat 60 kasus pengaduan sengketa lahan. Angka ini menurun dari 70 pengaduan kasus serupa pada periode 2009. Sedangkan pada 2008, kasusnya baru mencaaii 50-an. Yang patut dicatat, sengketa lahan ini umumnya melibatkan kekerasan sebagaimana terjadi di Mesuji, OKI 21 April lalu.

Dari berbagai sumber