• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

    • Module title
      Pertanyaan Abang Sunarya Yang sebelah Bang Rano mau tanya, gimana caranya situs The GET Networks jadi bahasa Indonesia semuanya?
      Author: Abang Sunarya - Facebook - Twitter
      Serba Boleh Kiagus MZ Unlimited module positions, layout variation, comment system, CCK K2 enable... What's else do you want? Boleh juga tuh pasang iklan Portfolio 2011 di Berita Ekspres Pak!
      Author: Kiagus MZ - Facebook - Twitter
  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Mg 25 06 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back S|U|M|A|T|E|R|A Kawasan Terpilih Riau Septina Kehilangan Ayahnya

Septina Kehilangan Ayahnya

  • PDF
Septina Primawati Rusli

Sementara menyiapkan diri dalam Pemilukada Wali Kota Pekanbaru Riau, calon wali kota Septina Primawati (isteri Gubernur Riau Rusli Zainal), kehilangan ayahnya. Ayah Septina bukan orang sembarangan, melainkan tokoh politik Riau yang pernah menggegerkan terkait pencalonan Gubernur Riau di masa Orde Baru. Ya, almarhum adalah Ismail Suko.

Ismail Suko, meninggal dunia pada Senin 15 Mei 2011 sekitar pukul 17.00 WIB dalam usia 79 tahun di Rumah Sakit Mahkota Malaka, Malaysia. Kepala Biro Humas Setdaprov Riau, Chairul Rizky, menuturkan, Ismail Suko meninggal karena sakit.

Menurut rencana almarhum akan dimakamkan di Pekanbaru pada Selasa 17 Mei 2011. Jenazah Ismail dijadwalkan tiba di rumah duka, di Jl Gadjah Mada Pekanbaru, Selasa pukul 08.00 WIB. "Kemungkinan besar jazad almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Pekanbaru karena ia banyak berjasa di Riau," ujarnya.

Ismail Suko merupakan putera asli Riau. Ia lahir pada 15 Juni 1932 di Muara Nikum, Pasir Pangarayan, Kabupaten Rokan Hulu. Semasa hidupnya, Ismail tercacat sebagai tokoh demokrasi di Riau dan kerap menyuarakan aspirasi daerah saat rezim represif pada Orde Baru tengah berada di puncak kekuasaannya.

Kiprah politiknya dikenal cukup fenomenal karena pernah memenangi Pemilihan Gubernur Riau yang dipilih DPRD pada  1985. Kala itu ia secara mengejutkan mengalahkan calon gubernur yang telah ditentukan oleh pemerintah pusat. Alhasil, Ismail Suko tak pernah menduduki jabatan sebagai gubernur karena dipaksa mundur oleh pemerintah pusat saat itu.

Tentu banyak yang tak bisa melupakan tragedi 2 September 1985 itu. Ismail Suko yang terpilih di DPRD Riau pada pemilihan Gubernur Riau bersaing dengan Imam Munandar akhirnya harus menerima kenyataan pahit. Rezim Orde Baru memaksa Ismail diturunkan. Masyarakat yang menilai Ismail dizalimi melakukan aksi dan berharap Ismail dapat dilantik jadi gubernur pada masa itu. Namun berbagai teror diterima Ismail dan keluarga.

Mulai dari ancaman bunuh, pembakaran rumah sampai teror-teror yang sangat mengancam jiwa. Bahkan dia jadi salah seorang yang paling dicari ‘rezim’ Orde Baru. Melihat keluarganya jadi korban, Ismail beserta istri, Roslaini sepakat jadi ‘pelarian’ ke Sumbar.

Ketokohan Ismail Suko ternyata juga didengar masyarakat Sumbar. Beberapa tahun, keluarga kecilnya hidup di Padang dan kemudian pindah ke Jakarta. Di sana, Ismail yang terus memantau perkembangan Riau, dikaruniai anak bernama Septina Priwamati yang kini isteri Gubernur Riau, Dr (HC) HM Rusli Zainal SE MP. Setelah memastikan kondisi Riau aman untuknya dan keluarga, Ismail kembali ke Pekanbaru.

Hingga kini ketokohan Ismail Suko masih mendapat tempat di hati masyarakat Riau. Dia kembali jadi tokoh yang sangat disegani dengan berbagai tindak tanduknya memberi masukan dalam program pembangunan Riau.

Bahkan selama tinggal di kediamannya di Jl Gadjah Mada Nomor 5 Pekanbaru, Ismail dan keluarga dikenal sangat ramah. Tak pernah dia menolak tamu. Kesederhanannya juga terlihat, meski dia tak lain adalah mertua orang nomor satu di Riau saat ini.

Sebelum Ismail Suko dibawa berobat ke Melaka, H Mulyadi, salah seorang wartawan senior di Riau sempat bertemu. Mulyadi sempat berbual panjang dengan Ismail Suko di Eka Hospital. Bahkan Ismail Suko ingin sembuh dan berniat ikut dengan Mulyadi jalan-jalan ke luar negeri. ‘’Awak masih sering ke luar negeri. Kalau saya sembuh nanti saya ingin ikut awak jalan-jalan ke luar negeri,’’ ucap Mulyadi mengenang percakapannya dengan Ismail Suko.

Mulyadi mengatakan, dia kenal Ismail Suko ketika Pemilu 1985. Saat itu dia menyalami Ismail Suko karena memperoleh suara lebih banyak dari Imam Munandar sebagai calon gubernur saat itu. ‘’Walau beliau bukanlah calon yang diunggulkan,’’ ungkap Mulyadi.

Mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit SH tak kuasa menahan rasa kagetnya dan menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Saleh sekaligus mendoakan agar semua amal ibadah almarhum diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi cobaan ini.

‘’Riau telah kehilangan seorang tokoh yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan untuk rakyat. Kita kehilangan tokoh yang lekat di hati rakyat. Banyak sekali kenangan bersama beliau. Beliau pernah aktif bersama saya di bidang pendidikan di Yayasan Lancang Kuning. Beliau aktif di lembaga adat. Sungguh, Riau telah kehilangan salah satu putera terbaiknya,’’ ungkap Saleh.

Pandangan senada juga disampaikan Budayawan Riau Al Azhar. Menurutnya, almarhum Ismail Suko bukan hanya salah seorang saksi utama perjalanan sejarah Riau pasca-kemerdekaan RI, tapi juga pejuang yang fenomenal.

Di masa pergolakan PRRI/Permesta, almarhum ada di Jakarta dan menyaksikan Riau serta kampung halamannya di Muara Nikum dari surat-surat kekasihnya, yang kemudian jadi isterinya sampai akhir hayat.

Pada masa pergantian Orde Lama ke Orde Baru, almarhum sudah jadi pejabat, sampai ke puncak karir sebagai Sekwilda Riau. ‘’Di masa puncak kekuasaan Orba, beliau jadi martir demokratisasi politik Indonesia setelah terpilih sebagai Gubernur Riau tapi dipaksa mundur. Sampai hari-hari terakhir hayatnya melibatkan diri dalam setiap upaya membela dan memelihara Riau ini. Selain patut ditangisi, kepergian beliau sebaiknya kita tanggapi dengan hati kejuangan yang tak pernah akan padam,’’ ujar Al Azhar.

Dikenal sebagai sosok yang ramah, sebagai suami, Ismail Suko juga terkenal romantis dan tak pernah marah. Sebagai ayah dan kakek, sangat mengayomi anak-anak dan cucu. Karir birokrasinya sangat baik di awal pemerintahan Provinsi Riau terbentuk.

Menurut laporan harian Riau Pos, suasana berkabung terlihat sangat kental di rumah duka. Meski jenazah belum berada di kediaman yang berjarak sekitar 100 meter dari Polda Riau, rumah itu sudah dilengkapi tenda. Barisan papan bunga ungkapan belasungkawa juga memenuhi Jalan Gadjah Mada hingga Jalan Jenderal Sudirman. Ini menunjukkan figur yang dikenal visioner itu dekat di hati masyarakat Riau.

Kepergiannya kian meninggalkan duka dan kesedihan berbagai pihak. Seperti tokoh masyarakat Riau H Tenas Effendy yang mengaku sangat dekat dan mengenal figur yang membumi di masyarakat Riau. ‘’Kita sangat berduka dengan kepergian tokoh yang jadi panutan bagi masyarakat Riau. Ini merupakan duka bagi masyarakat Riau, karena beliau kian berjasa untuk pembangunan dan perkembangan sosial kemasyarakatan di Bumi Lancang Kuning,’’ tutur sesepuh adat Melayu Riau itu.

Dia juga menilai jejak perjuangan dan semangat Ismail Suko sudah sangat layak jadi suri tauladan. Sebab pribadinya yang bersahaja, ramah dan memiliki jiwa sosial tinggi serta peduli masyarakat merupakan sikap yang dapat diterapkan para generasi muda penerus bangsa.

‘’Selain sebagai tokoh politik, dia juga terkenal agamis dan konsen dalam pengembangan dunia pendidikan dan budaya Melayu. Ini terlihat dengan beberapa yayasan yang telah didirikannya,’’ ungkap Tenas.

Tenas  juga mengajak keluarga yang ditinggalkan dapat bersabar dan mendoakan. ‘’Secara pribadi, keluarga dan saya mengajak masyarakat Riau untuk mendoakan beliau. Semoga beliau diterima di sisi Allah SWT,’’ tambahnya.

Sementara itu, Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP mengatakan, keluarga yang ditinggalkan sangat kehilangan figur yang berwibawa, dekat dengan keluarga dan selalu murah senyum. ‘’Kita kehilangan figur yang sudah seperti orang tua dan bapak bagi masyarakat Riau. Kita mewakili keluarga mengharapkan doa agar beliau diberi tempat yang layak dan dekat di sisi Sang Khalik,’’ tuturnya.

Kini karir politik Ismail Suko tampaknya dilanjutkan oleh anaknya. Sambil melepas kepergian Ismail Suko, kita lihat saja hasil Pemilukada Wali Kota Pekanbaru, Rabu, 18 Mei 2011.