• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

    • Module title
      Pertanyaan Abang Sunarya Yang sebelah Bang Rano mau tanya, gimana caranya situs The GET Networks jadi bahasa Indonesia semuanya?
      Author: Abang Sunarya - Facebook - Twitter
      Serba Boleh Kiagus MZ Unlimited module positions, layout variation, comment system, CCK K2 enable... What's else do you want? Boleh juga tuh pasang iklan Portfolio 2011 di Berita Ekspres Pak!
      Author: Kiagus MZ - Facebook - Twitter
  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Sab 19 08 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Keliru
  • Error loading feed data.
  • Error loading feed data.
Back J|A|W|A Kawasan Terpilih Jatim Bagi Zakat di Kantor Pak Wali Sempat Ricuh

Bagi Zakat di Kantor Pak Wali Sempat Ricuh

  • PDF

Sempat tegang dan ricuh, pembagian zakat bagi yang berhak di Kantor Wali Kota Probolinggo, Jawa Timur, akhirnya terselesaikan. Para penerima zakat yang sebagian besar pengayuh becak itu sempat beradu mulut dengan panitia. Para petugas keamanan pun sempat menghalau tukang becak di acara penyerahan zakat yang berlangsung pada Sabtu, 18 Agustus 2012 itu.

Sejumlah tukang becak ternyata menerima amplop kosong. Seharusnya, setiap tukang becak yang tersebar di 29 Kelurahan sekota Probolinggo menerima zakat sebesar Rp50 ribu. Dananya diperoleh dari zakat penghasilan PNS golongan 2 C ke atas.

Salah seorang pengayuh becak yang menerima amplop kosong itu adalah Buyan, 46, warga Kelurahan Sukabumi, Nurahmat, 61, dan Tohir, 53, warga Kelurahan Mayangan. Ketiganya sempat saling tarik urat leher beradu mulut dengan panitia. Malah petugas Polresta Probolingggo, yang mengamankan acara penyerahan zakat, mengusir Buyan.

Warga Kelurahan Sukabumi ini rupanya bergabung dengan kelompok warga Mayangan. Ia berkeras minta dilayani meski keliru berada di kelompok Mayangan. Lantaran itu, salah seorang warga Kelurahan Mayangan sesama penerima zakat, membentak Buyan agar segera meninggalkan tempat pembagian zakat kelompoknya. Warga tersebut menilai, Buyan telah mengeruhkan situasi tempat warga Mayangan menerima zakat. “Kamu itu salah alamat, bukan di sini tempatnya!” ujar seorang warga dengan suara keras.

Buyan yang merasa keliru akhirnya mengalah. Ia meminta maaf karena telah keliru tempat. Menurut dia, penukaran surat undangan yang ia bawa dengan amplop berisi uang Rp 50 ribu seharusnya memang ke panitia khusus Kelurahan Sukabumi. “Saya tidak tahu. Begitu datang saya langsung antre di tempat warga Mayangan,” ungkap Buyan.

Lain lagi pengalaman Nurahmat dan Tohir. Keduanya juga beradu mulut dengan panitia lantaran amplop yang dibawanya, setelah dilihat di rumahnya, ternyata kosong melompong. Dengan mengayuh becaknya, mereka kembali. “Saya nggak tahu isinya. Tapi, setelah di rumah saya buka, eh malah kosong. Amplopnya nggak dilem,” terang Nurakhmat yang diamini Tohir dan Buyan.

Namun ketegangan tersebut tidak berlangsung lama dan dapat dihentikan, setelah panitia berjanji akan mengganti dengan amplop yang ada isinya, usai acara pembagian zakat. Meski begitu, belasan penarik becak itu belum puas dan menggerutu, menyayangkan hal itu terjadi.

Menurut Ketua umum Badan Amil Zakat Daerah (Bazda) yang juga Sekda Kota Probolinggo, Drs Joni Hariyanto MSi, ketegangan itu sudah diantisipasi sebelumnya sehingga ketegangan yang berakhir perang mulut itu, tidak meluas. Joni menjelaskan, agar tidak ricuh saat pembagian, pihaknya, sebelumnya telah berkoordinasi dengan Polres Probolinggo Kota. Sebab itu, pembagian zakat kepada 4.622 tukang becak yang dilaksanakan serempak selama satu hari itu dipecah di tiga tempat.

Untuk Kecamatan Kedopok dan Wonoasih, berlangasung di Pendopo Kecamatan Kedopok. Bagi warga di Kecamatan Kademangan dan Kanigaran, pembagiannya ditempatkan di Kantor Kecamatan. Sedang yang berlangsungsung di halaman Kantor Wali Kota, khusus warga Kecamatan Mayangan saja yang jumlah penduduknya hampir sama dengan dua kecamatan tersebut.

Joni bilang, kekeliruan itu pasti ada dan tidak perlu dipersoalkan mengingat waktu persiapan hingga pada hari pelaksanaannya, amat mepet. “Kami sadar, pasti ada saja kekurangannya. Masalahnya waktunya mepet, zakat fitrah itu tidak boleh diberikan setelah hari raya. Pasti akan kami ganti tukang becak yang dapat amplop kosong,” terang Joni Hariyanto. Yo wis, beres toh?