• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Sab 22 11 2014

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back Wawancara yang Sesungguhnya Iwan Ridwan Sulandjana

Iwan Ridwan Sulandjana

Iwan Sulandjana

Kini (2011) Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat.

Interview full version
All photo

Mantan Panglima Daerah Militer sebuah provinsi yang menjadi gubernur sudah banyak di Indonesia. Yang menjadi calon gubernur pun begitu juga. Namun, Mayjen (pur) Iwan Ridwan Sulandjana bersedia menjadi Calon Wakil Gubernur Jawa Barat mendampingi Gubernur (incumbent) Danny Setiawan dalam Pilkada Gubernur dan Wakil Gubernur pada 13 April 2008 mendatang. Mengapa demikian?

Lebih lagi, tatkala menjadi Pangdam, ia juga sudah diminta menjadi Gubernur Jabar oleh Presiden (waktu itu) Megawati Soekarnoputri. Bahkan Danny Setiawan yang akhirnya menjadi Gubernur pun punten (permisi) dulu kepada Iwan untuk duduk di kursi Jabar-1. Pribadi yang tak berorientasi jabatan, tapi kinerja, yang tampaknya melekat dengan putera kelahiran Bogor, 1 Maret 1951 ini. Simak wawancara dengan Iwan R Sulandjana di kediamannya, di kawasan Cikeas, Bogor, Jawa Barat .

Bagaimana ceritanya hingga Anda menjadi calon wakil gubernur

Waktu saya Pangdam, pernah juga saya ditawari menjadi gubernur. Sekarang, waktu Pak Danny mau maju lagi, beliau telepon saya. Apakah sekarang Pak Iwan mau maju sebagai calon gubernur? Saya bilang, pemerintahan selama lima tahun itu belum cukup, kadang-kadang 10 tahun juga masih belum tuntas programnya. Lantas ia menawarkan bagaimana kalau Pak Iwan mendampingi saya sebagai wakil gubernur? Saya pikir ini merupakan sebuah kehormatan. Saya tidak mau menerima amanah karena motif jabatan karena saya berpegang teguh kepada agama. Begitulah ceritanya sehingga saya menjadi calon wakil gubernur.

Tapi, biasanya mantan Pangdam itu menjadi gubernur, mengapa Anda bersedia menjadi wakil gubernur?

Sejauh ini saya baru sendiri yang bersedia menjadi calon wakil gubernur. Banyak juga yang mengusulkan supaya saya maju sebagai calon gubernur. Tapi, berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tadi, soal amanah dan pemerintahan Pak Danny yang lima tahun itu belum tuntas, lima tahun ke depan saya mengawal saja, sebagai figur yang berlatar belakang militer, ya tut wuri handayani saja. Mau gubernur atau wakil gubernur kan amanah dan bisa menyelesaikan persoalan di Jawa Barat, itu juga melalui salat istikharah yang mengilhami saya untuk maju.

Gubernur seperti apa yang diperlukan oleh Jawa Barat lima tahun ke depan?

Yang diperlukan adalah pemimpin yang tidak feodal, yang mau duduk bersama rakyat jelata. Selama ini, kesan orang, berhubungan dengan pejabat itu susah. Saya mencoba memulainya dengan open house ketika menjadi Pangdam. Kalau tidak dibuka, siapa yang mau mengkritik? Dari forum itu kan akan kelihatan masalah yang muncul di tengah masyarakat. Kita tinggal telepon bupatinya, camatnya, sampai ke bawah. Tapi waktu itu kan saya Pangdam, saya tidak dapat memberikan solusi yang lugas dan tuntas karena kewenangan Pangdam bukan di wilayah kemasyarakatan. Kalau saya menjadi Wagub, kita dapat menyelesaikan masalah secara langsung.

Kalau Anda menjadi Wakil Gubernur, kan tidak bisa mengambil keputusan seperti Gubernur?

Itu semua tergantung kepada sejauh mana kredibilitas kita di hadapan orang lain. Sebagai pasangan, Danny-Iwan itu kan sudah ada kesepakatan. Gubernur akan 70 persen menangani persoalan eksternal di masyarakat, sisanya di internal administrasi pemerintahan. Sebagai wakil, saya 50 persen di luar dan 50 persen di dalam. Sekretaris Daerah, itu 70 persen di dalam, 30 persen di luar. Nah, Wakil Gubernur itu juga mengawasi Sekda. Wakil Gubernur juga dapat memberi saran kepada Gubernur. Jika saran itu dipersiapkan dengan baik dan mendapat dukungan internal, tentulah Gubernur akan menerimanya dan mengambil keputusan berdasarkan saran tersebut.

Ngomong-ngomong soal kredibilitas, pasangan Danny-Iwan ada juga yang mendiskreditkan, misalnya soal mencuri start kampanye. Bagaimana tanggapan Anda?

Bagi saya itu, dalam demokrasi kita bersaing secara fair saja. Selama kita masih dalam rambu-rambu kan boleh masuk. Kalau saya silaturahmi kan belum masuk kampanye. Kalau ada yang mendukung juga kadang-kadang ada yang menilai negatif, misalnya dianggap pengkotak-kotakan. Bagaimanapun sekarang aturan mainnya bagaimana meraih simpati rakyat. Jadi, siapapun calonnya, akan berbuat seperti agar rakyat bersimpati. Ada yang melalui media, atau dengan cara apa saja. Kesimpulan akhir kan ada di tangan pemilih. Jadi bagi saya memang sarana itu memang sarana yang efektif. Pertanyaannya, masyarakat Jawa Barat itu kan tidak bodoh. Pasti mereka akan melihat figur. Figur itulah yang kita tampilkan. Mungkin ada figur terkenal, seperti artis, bekas menteri, bekas cawapres. Itu terserah masyarakat menilai, silakan. Mungkin ada juga masyarakat yang bisa diiming-imingi dengan uang, tapi ada juga yang tidak bisa. Toh rakyat akan melihat si A siapa, pernahkah bekerja di Jawa Barat, itu akan menjadi pertimbangan. jadi tak ada masalah buat saya. Apapun itu, Tuhanlah yang menentukan. Manusia hanya berikhtiar, pada akhirnya Tuhan yang menentukan. Maka akan berjalan hukum-hukum, setiap waktu ada pemimpinnya, setiap pemimpin ada masanya. Sudah. Kalau nanti terpilih, itu berarti memang hak. Ada waktunya kita memimpin. Kalau nanti memang tidak terpilih, itu memang bukan haknya memimpin. Selesai.

Anda siap kalah siap menang?

Kalah memang risiko. Seharusnya itu dipahami dari segi filosofi. Jadi, ketika kalah ya sudah. Berarti itu bukan hak kita. Pemilihan Presiden juga begitu, ada yang sudah jor-joran, tetapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Artinya memang sudah ada garis siapa yang harus memimpin. Pemilihan gubernur juga begitu. Gubernur itu pemimpin. Nah hak siapa sekarang, lihat saja nanti.

Apa visi dan misi Anda?

Sebagai cawagub tentunya saya akan mendukung visi dan misi cagub. Yang akan saya lakukan pertama kali jika menjadi Wakil Gubernur adalah reformasi perilaku masyarakat Jawa Barat agar lebih menjaga kelestarian lingkungan hidup. Pendekatannya ekologis. Ini berkaitan dengan bencana yang silih berganti. Itu semua karena kita kurang peduli lingkungan dan berbuat seenaknya. Yang kedua adalah transformasi perilaku aparaturnya. Kita berharap aparatur Pemerintah Provinsi Jawa Barat memiliki etika kepemimpinan untuk menjadi pamong sekaligus menjadi pelayan masyarakat. Kita sudah sering bicara kudu cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), pinter (pintar). Jadi aparat itu harus sehat dan bugar, kemudian baik kepada masyarakat, termasuk meneyenangkan ketika melayani publik. Setelah itu menjadi aparat yang benar, patuh kepada hukum dan meninggalkan yang haram. Yang terakhir pintar, ini dapat dilaksanakan dengan pelatihan dan pendidikan lanjut agar kualitas sumber daya aparat juga meningkat. Kita juga mengenal jujur, jajar, jejer. Jujur jelas, jajar itu solid dan jejer itu egaliter, jangan mentang-mentang pejabat maunya status menak. Aparat itu hendaknya jejer, berjejer dengan masyarakatnya. Kelanjutan jujur, jajar, jejer, adalah tur singer. Kalau orang Sunda, tur singer (dan prima) itu sudah sempurnalah menjadi manusia.

Tapi, Wagub Jabar itu kan tinggal duduk manis saja. Birokrasi akan jalan?

Siapa bilang? Belum lama ini saya ke Subang, jalannya rusak habis. Belum lagi di wilayah selatan. Infrastruktur masih kurang. Ini tantangan. Itu juga mejadi target saya untuk membangun Jawa Barat secara merata, baik di Pantura maupun di kawasan selatan. Jika jalan dan infrastrktur bagus, ekonomi akan bergerak dan masyarakat dapat lebih sejahtera.

Bagaimana Anda melihat ekologi Jawa Barat?

Sebetulnya kalau saya lihat itu, pendekatan saya adalah ekologis. Pantura, misalnya, untuk padi bagus di dataran rendah. Tapi daerah perbukitannya sudah banyak yang gundul. Nah ini akan kita hijaukan. Itu bisa dibuktikan begini. Di sebelah hutan itu lebih subur, sementara yang agak jauh kurang subur karena tak ada hutan penyangga. Dari foto udara itu terlihat jelas. Di Priangan itu karena masih banyak hutan, sawahnya subur. Alam sudah mengatur, mengapa kita tidak kembali ke situ? Kalau kawasan Pantura itu dihijaukan kembali, itu akan lebih bagus.

Kalau Jawa Barat secara keseluruhan seperti apa?

Jika melihat sejarah, yang namanya Jawa Barat itu luas. Sangat luas. Dulu itu, yang ada cuma Jawa Barat dan Jawa Timur. Dari Semarang ke Cilacap itu masuk Jawa Barat. Yang pakai sungai Ci itu Jawa Barat, termasuk Banjarnegara dan sebagainya itu. Tapi oleh pemerintah penjajah dipecah-pecah agar Jawa barat ini kecil. DKI dengan Sunda Kalapanya menjadi provinsi. Begitu juga Banten. Sekarang apakah harus ada yang lepas lagi, misalnya masalah pantura kan? Nah saya menilai itu sebagai bagian dari pemecahan oleh oknum-oknum yang sengaja hendak memperkecil Jawa Barat.

Masa depan Jawa Barat dari kaca mata politik bagaimana?

Masyarakat Jawa Barat itu religius, dari dulu. Menghadapi kehidupan sehari-hari orientasinya ke situ. Kedua, masyarakat Jawa barat itu masih paternalistik, masih patuh kepada pemimpin baik ulama, kepala desa, maupun pemimpin yang lain. Cobalah kalau ada demo di Jawa Barat, lihat siapa yang memimpin, umumnya bukan orang Jawa Barat. Karena paternalistik, ada yang memimpin, dia akan ikut.

Hubungan masyarakat Jawa Barat dengan pendatang bagaimana?

Dengan masyarakat yang seperti tadi saya kemukakan, ditambah kondisi alamnya, pendatang kan betah berada di Jawa Barat.

Target suara pasangan Danny-Iwan bagaimana?

Orang suka menghitung-hitung suara. Kalau saya tidak begitu. Yang seperti itu, kalau bergurau, selisih satu saja sudah menang. Yang kita pikirkan sebenarnya apakah partisipasi dalam pilkada itu tinggi atau rendah. Petugas pendaftaran di kelurahan itu seharusnya menggunakan istilah jemput bola. Kalau tidak, bisa-bisa golputnya banyak, Itu mungkin di perkotaan. Perkiraan saya seperti itu. Bukan karena mereka tidak mau, melainkan tidak tahu. Saya pernah melihat di desa-desa, ada tulisan daftarkan, daftarkan. Tapi kalau kita tidak mendaftar ya tidak terdaftar. Ironis kan? Jadi mungkin kita jalan 100 orang, ternyata mereka tidak terdaftar, itu kan sia-sia. Karena itu di sinilah pentingnya peran media, agar semua orang mengetahui dan berpartisipasi. Mereka tinggal pilih calon yang mana. Karena itulah, pada detik terakhir, Tuhanlah yang menentukan.

Apakah ada alternatif menghadapi kemungkinan Golput seperti itu?

Kita kampanye berbarengan saja setiap pasangan. Setelah masing-masing pasangan mengajukan programnya di sebuah kota, langsung saja rakyat memilih. Begitu saja sehingga partisipasi mungkin lebih tinggi.

Jika pemilihan gubernur dilaksanakan oleh DPRD saja, tidak melalui pilkada langsung bagaimana?

Saya setuju. Yang keberatan itu mungkin partai-partai politik karena mereka memiliki kepentingan.

Anda melihat banyak golput dalam pilkada Bupati dan Walikota di Jawa Barat mungkin?

Ya itulah kekeliruannya, petugas seharusnya jemput bola. Kalau diberi sanksi juga mereka bisa bilang, "Bapak enak memberi sanksi, tapi saya tak ada solusinya." Sekarang saja, apa saya sudah terdaftar di Kabupaten Bogor? Belum ada yang datang ke sini tuh. Ya gitu deh.

Apa keunggulan Anda sebagai mantan Pangdam Siliwangi dalam pilkada di Jawa Barat?

Jawa Barat itu Siliwangi, Siliwangi itu Jawa Barat. Sebagai mantan Pangdam Siliwangi, sudah seharusnya saya lebih mengetahui Jawa Barat daripada yang belum menjadi Pangdam di sini.

Nilai artikel ini
(0 Penilai)
Blogger Lama

Blogger Lama

Senang sekali Anda berkunjung dan menelusuri blog saya. Bukan mau sok-sokan, saya memang senang berjalan-jalan baik dalam kenyataan maupun hanya di pikiran.

Situs: id.answers.yahoo.com

Silakan berkomentar

Pastikan Anda mengisi kotak bertanda bintang.
Silakan gunakan kode HTML dasar.