• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Kam 24 08 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back Wawancara yang Sesungguhnya Dr Ing Evita H Legowo

Dr Ing Evita H Legowo

Dimuat pada: 28 Desember 2010
Dr Ing Evita H Legowo

Industri migas bukan pabrik sepatu...

Wawancara Lengkap
Foto-foto

Di hari ulang tahunnya pada 3 November 2010 lalu, Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI Dr Ing Evita H Legowo menerima Majalah Publik untuk sebuah sesi wawancara. Hal penting dalam wawancara ini antara lain adalah target pendapatan nasional dari sektor minyak dan gas. Namun, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, bahkan lebih, ternyata produksi migas nasional memang terus menurun. Apa saja implikasi penurunan produksi itu, dan bagaimana jalan keluarnya? Berikut petikan wawancaranya.

Target angka lifting minyak pada 2010 sebesar 965 ribu barel per hari tampaknya sulit tercapai. Apa sebenarnya yang terjadi?

Terus terang dengan kejadian kemarin, pipa Transgasindo Indonesia yang pecah, memang hanya lima hari ya, tapi itu membuat kita kekurangan. Biasanya Chevron berproduksi sekitar 380 ribu barel per hari. Dengan kebocoran produksi sempat turun menjadi hanya 220 ribu barel per hari. Jadi kita kehilangan 160 ribu barel per hari. Nah, dengan penurunan itu juga kita tidak bisa langsung kembali ke angka 380 ribu barel. Optimumnya paling 370-an ribu barel per hari. Jadi, kisaran kehilangan per hari antara 5-10 ribu barel per hari. Tapi, kami masih berusaha untuk lifting stok crude oil (minyak mentah) sehingga produksi nasional pada tahun ini dapat mencapai 960 ribu barel per hari, itupun dengan upaya maksimal.

Tapi, pemerintah ingin menaikkan angka lifting pada 2010 menjadi 970 ribu barel per hari. Dari mana sumbernya?

Sumber minyak antara lain berasal dari lapangan baru seperti di Cepu. Cepu itu kita harapkan bisa sampai 20 ribu barel per hari. Sekarang pun sudah bisa 20-22 ribu, tapi belum ada off takernya, belum ada yang mengambil crude oilnya, sehingga tidak bisa full 20 ribu. Sekarang yang kita upayakan adalah agar ada yang menjadi off taker sepenuhnya sehingga bisa berproduksi penuh. Semua instalasi kilang Tri Wahana Universal (TWU) itu akan dioperasikan. Pipa Petrochina bisa menampung 14 ribu, sedangkan TWU enam ribu. TWU juga belum bisa stabil enam ribu barel per hari.

Kalau begitu, bisakah kita optimistik bahwa angka APBN 2011 dari sektor migas tidak mengkhawatirkan?

Tidak semudah itu untuk sampai pada kesimpulan itu. Industri migas kan bukan seperti pabrik sepatu yang bahan baku kulitnya bisa dibeli di mana-mana. Untuk migas kan sangat tergantung pada alam. Tapi, kita akan berusaha keras dan bekerja sebaik-baiknya.

Di masa lalu biasanya secara politis pemerintah menetapkan target-target yang konservatif dan pasti tercapai sehingga tak menimbulkan reaksi simpang-siur baik di parlemen, pengamat, maupun masyarakat awam. Bagaimana penetapan target pendapatan sektor migas sekarang?

Sekarang sebenarnya jauh lebih baik. Untuk menetapkan angka APBN dari sektor migas itu faktornya antara lain adalah liftingnya berapa, kemudian, cost dan harganya juga berapa. Untuk 2011 ini mudah-mudahan kombinasi tiga faktor itu dengan nilai kurs akan matched.

Indonesia sudah keluar dari OPEC. Apakah mungkin menjadi anggota lagi?

Dari sisi kami, Indonesia keluar dari OPEC itu ada alasannya. Pertama, untuk mencapai produksi satu juta barel per hari saja susah. Dibandingkan dengan produksi anggota OPEC yang besar-besar, istilahnya kita ini jadi nggak nyambung. Nah, apakah suatu saat kita akan kembali menjadi anggota, dalam waktu dekat ini kita belum akan menjadi anggota lagi. Tapi, jika suatu saat kita menemukan cadangan migas di cekungan yang besar, kemungkinan untuk itu terbuka.

Jika untuk kebutuhan dalam negeri, apakah kita bisa swasembada bahan bakar minyak?

Minyak kita ini tidak banyak sekali. Kita masih kekurangan untuk kebutuhan dalam negeri, walaupun penyebabnya adalah crude oil yang dihasilkan berbeda-beda. Setiap kilang memiliki ciri khas yang memerlukan crude tertentu. Yang kita perlukan untuk konsumsi dalam negeri adalah crude oil yang tidak kita punyai. Crude oil yang berasal dari Timur Tengah kandungan sulfurnya tinggi dan harganya lebih rendah, jadi kita buat sebagai bahan baku minyak pelumas. Nah, kilang kita sendiri sebenarnya memiliki kapasitas 1,1 juta barel per hari, produksinya sekitar 700 ribu barel per hari. Sementara kebutuhan kita 1,2 juta barel per hari. Jadi, kita masih impor. Kita mempunyai rencana membangun kilang baru, semoga swasembada BBM bisa kita capai.

Terkait dengan konversi minyak tanah ke gas, sepertinya ada dua kebijakan berbeda: tabung gas dan pipanisasi?

Oh nggak! Nggak. Sebetulnya yang harganya lebih murah itu pipanisasi gas. Tapi, masalahnya, infrastruktur kita sangat terbatas. Jadi, pipanisasi itu hanya bisa dilakukan di daerah-daerah yang dekat dengan sumber gas. Kalau daerah yang jauh tidak mungkin, karena akan sangat mahal sekali. Maka pilihannya adalah tabung elpiji tadi. Tapi sebenarnya bukan dualisme. Jika memungkinkan menggunakan pipa, kita pasang pipanisasi. Untuk yang tidak memungkinkan, kita pilih elpiji. Memang sekarang sudah ada teknologi untuk mengangkut gas dalam jumlah besar ke suatu tempat, tapi ya pakai tabung-tabung juga yang ukurannya besar. Jadi, tabung kecil-kecil itu untuk kepraktisan saja.

Lantas bagaimana roadmap penyediaan konsumsi energi nasional 10-20 tahun ke depan?

Jadi, itu yang kita sebut energy mix ya. Kalau kita bandingkan, sesuai dengan Perpres No 5 Tahun 2006, minyak bumi pada 2006 adalah 51,6 persen dari energy mix kita. Energy mix itu adalah energi apa saja yang tersedia di Indonesia untuk seluruh kebutuhan kita. Apakah itu rumah tangga, transportasi, kepentingan komersial (hotel, restoran). Nah pada 2025 komposisinya tidak akan begitu lagi.

Jadi seperti apa nantinya?

Kita tahu bahwa minyak itu akan habis. Jadi kita ingin minyak itu maksimum hanya 20 persen dari energy mix tadi pada 2006. Tapi, walaupun hanya 20 persen dibandingkan 51,6 persen, bukan berarti kita tidak kerja keras lagi. Enak banget dong kayaknya.

Kita tetap harus kerja keras meskipun hanya 20 persen?

Ya. Mengapa? Karena kebutuhan energi kita setiap tahun meningkat sekitar 7-8 persen. Ini bukan masalah gampang untuk memenuhinya. Kalau kita hitung, yang 20 persen itu tetap saja setara dengan satu juta barel per hari. Terlebih lagi, produksi minyak bumi kita secara alami turun dengan sumber yang tersedia sekarang. Kita harus punya sumber produksi baru. Dengan itu baru kita bisa mendekati angka satu juta barel per hari. Itulah yang harus kita jaga hingga 2025 mendatang.

Peluang untuk membuka lapangan minyak baru bagaimana?

Ya kita harus mencari investor, baik dalam maupun luar negeri yang mau melakukan operasi kemigasan.

Seberapa serius kita mencapai energy mix tadi?

Kita lihat komposisinya, minyak yang tadinya 51,66 persen menjadi 20 persen. Gas dan CBM (coalbed methane, gas methana yang dikandung batu bara) semula 28,57 persen menjadi 30 persen. Batu bara yang semula 15,34 persen kita harapkan menjadi 33 persen. Nah selain itu ada energi baru terbarukan (EBT) 17 persen. Kementerian ESDM sangat serius menumbuhkan EBT ini.

Buktinya apa?

Kita kan sudah membentuk direktorat jenderal baru, Ditjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi. Pada Juli 2010 Ditjen baru ini malah menargetkan pada 2025 nanti, EBT dalam energy mix nasional bukan hanya 17, melainkan 25 persen. Jadi istilahnya 25:25. Satu lagi, kita juga berupaya untuk menerapkan efisiensi energi.

Ya, bagaimana soal efisiensi energi ini?

Kita lihat bahwa elastisitas energi kita pada 2006 adalah 1,8. Pada 2025, kita targetkan elastisitas energi di bawah 1.

Apa arti elastisitas energi sebenarnya?

Ini adalah tingkat pemborosan energi. Makin besar angka elastisitas energi, makin boros kita dalam penggunaan energi. Itu pula sebabnya nama Ditjen tadi EBT KE. (Sekadar ilustrasi, peningkatan konsumsi energi Indonesia sekitar 8 persen setahun, sedangkan pertumbuhan ekonomi nasionalnya 6 persen. Maka, elastisitas energinya adalah 8%/6%= 1,33. Sementara elastisitas energi di negara maju umumnya di bawah 1.)

Sebagai pejabat yang berada di sisi regulator, bagaimana Anda melihat Pertamina?

Kalau saya melihat sekarang Pertamina lebih sehat dibandingkan dengan sebelum UU No 22 Tahun 2001 tentang Migas berlaku. Sekarang Pertamina dapat berkonsentrasi dengan bisnisnya. Kalau dulu terjadi campur aduk, menjadi regulator juga, operator juga, jadi bingung. Nah, dengan UU No 22 itu Pertamina dapat compete lagi sebagai bisnis dari sisi hulu maupun hilirnya, walaupun di sisi hulu memang sudah cukup baik karena landasan kerjanya sudah cukup kuat. Namun untuk sisi hilir memang cukup berat untuk Pertamina jika harus membangun kilang sendiri.

O ya, sejak 1998 kita belum memiliki kilang baru. Mengapa?

Karena memang untuk membangun kilang baru itu margin keuntungannya kecil. Untuk membangun kilang baru itu harus memenuhi dua persyaratan. Pertama, marginnya harus cukup baik. Semua bisnis memang begitu kan? Yang kedua, crude oilnya juga harus tersedia. Nah, pemerintah sudah memberikan tambahan insentif (pajak) dengan PP No 62 Tahun 2008 sebagai amandemen PP No 1 Tahun 2007 yang terkait dengan PPh. Namun, untuk investor kilang tampaknya itu belum cukup, masih diperlukan insentif tambahan.

Sebagai Komisaris Pertamina, apa tanggapan Anda tentang rencana akuisisi terhadap Medco Energy?

Sebagai komisaris, Dewan Komisaris Pertamina belum mendapat keterangan resmi dari rencana aksi korporasi tersebut. Namun, menjadi tugas komisaris untuk melihat rencana ini secara hati-hati. Kami perlu melihat plus dan minusnya.

Nilai artikel ini
(0 Penilai)

Silakan berkomentar

Pastikan Anda mengisi kotak bertanda bintang.
Silakan gunakan kode HTML dasar.