• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Kam 24 08 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back Wawancara yang Sesungguhnya H Reskan E Awaluddin SE

H Reskan E Awaluddin SE

 

H Reskan E Awaluddin SE

Bupati Bengkulu Selatan 2010-2015

Wawancara Lengkap
Foto-foto

Bupati Bengkulu Selatan, Bengkulu, H Reskan Effendi Awaluddin SE melalui jalan berliku untuk duduk di jabatannya sekarang. Proses Pemilukada kabupatennya berlangsung hingga tiga putaran. “Jika sampai empat putaran, saya tidak akan mengikutinya,” kata dia. Melalui perjuangan di Mahkamah Konstitusi, akhirnya ia ditetapkan sebagai bupati terpilih. Setelah menjadi Bupati, bagaimana rencananya membangun Kabupaten Bengkulu Selatan yang penuh tantangan? Berikut wawancaranya:

Seperti apa pengalaman Anda mengikuti pemilukada Bengkulu Selatan?

Ringkas cerita, Pemilukada Bengkulu Selatan itu berlangsung pada 2008. Namun, baru pada 2010 lalu prosesnya selesai. Pada tahap awal, bertarunglah sembilan pasang. Putaran pertama, kami, pasangan Reskan Effendi-Rohidin Mersyah menang, masuk putaran kedua dengan perolehan 21 persen suara. Yang lain, 14, sembilan, Pak Bupati incumbent enam persen, Pak Dirwan tujuh persen.

Lantas bagaimana putaran kedua?

Kita kembali bertarung, saya masih tetap dengan modal 20,86 persen, Pak Dirwan 14 persen. Jadi, finalnya pasangan saya dan pasangan Dirwan. Sejak awal saya yang berasal dari birokrasi ini tidak diunggulkan. Ada Bupati petahana (incumbent), ada Dirwan Ketua DPRD. Akhirnya putaran kedua saya kalah. Saya dapat 48 koma sekian persen, Dirwan dapat 51 koma sekian persen.

Apakah ada permainan?

Terasa memang dan jelas betul. Tapi saya pada saat itu berkomentar, sudahlah. Karena sudah capek kan? Kalah tidak jadi masalah. Sudahlah. Tapi pasangan kami didesak oleh tim pemenanngan. Mereka bilang seharusnya kita yang menang. Di daerah pemilihan ini kita menang, kenapa hasil akhirnya kalah. Begitu juga di beberapa daerah pemilihan lainnya. Maka berangkatlah kita ke Mahkamah Konstitusi. Kira-kira tiga hari sebelum batas pendaftaran tutup, kami berangkat. Ternyata urusan di Jakarta agak merepotkan. Baru pukul 09.00 di hari penutupan saya bertemu dengan pengacara, pukul 17.00 pendaftaran perkara tutup. Akhirnya pukul 11.00 kita berhasil mendaftarkan gugatan perselisihan hasil pemilihan umum (PHPU) Bengkulu Selatan. Pengacara saya itu Pak Andi (Dr Andi M Asrun). Setelah selesai pendaftaran, kami pulang ke Manna (ibu kota Bengkulu Selatan). Persiapan menghadapi sidang.

Bagaimana proses sidang di MK?

Begitu perkara dibuka di MK. Terbongkar semuanya. Baik itu hitungan yang salah terbongkar, status Dirwan pernah terpidana terbongkar. Sebelumnya masyarakat Manna sebenarnya sudah tahu semua itu, tapi belum ada yang mempersoalkan. Selanjutnya MK memutuskan pemilihan kepala daerah ulangan, Pak Dirwan tidak boleh ikut lagi. Saya sudah optimistik, tapi itulah KPU Bengkulu Selatan, yang sudah kalah dalam putaran pertama masih bisa ikut lagi. Maka ada delapan pasang yang akan bertarung lagi.

Kemudian?

Kami bertarung ulang. Hasilnya, saya unggul lagi dengan 30,18 persen menurut perhitungan tim pemenangan yang mengumpulkan data dari setiap TPS. Sehari sebelum pengumuman resmi, malamnya sudah ada ucapan selamat pukul 23 malam. Tapi apa yang terjadi?

Apa yang terjadi?

Besoknya angka saya turun, turun, turun lagi. Menurut KPU dalam plenonya akhirnya angka perolehan saya adalah 29,92 persen. Saya bilang tidak mungkin karena kami semua mengikuti perhitungan suara. Sampai bertengkar kami di depan muspida waktu itu. Saya sangat emosional waktu itu. Tapi banyak yang menahan saya. Pak Kapolres, dan yang lain-lainnya bilang: “Pak Bowo (panggilan Reskan), sabar. Jangan sampai memukul.” Kalau memukul kan lain ceritanya, jadi pidana. Akhirnya kusalami KPU. Tapi, besoknya saya balik ke Jakarta untuk ke MK lagi.

Bagaimana selanjutnya?

Saya berangkat ke Jakarta tuntutannya tidak banyak. Putaran pertama saya menang. Pengacara Pak Dirwan, Arteria Dahlan, juga sudah mengetahui. Putaran kedua saya menang, walaupun saya kalah. Kenapa saya katakan menang? Lawan saya yang dikalahkan, berarti saya yang menang. Putaran ketiga saya menang. Di MK pun saya menang. Maka pada tahap ini saya bilang, dengan hormat, jika Pemilukada Bengkulu Selatan ini diulang hingga keempat kalinya, saya tidak akan ikut. Silakan siapa saja yang mau dilantik, silakan.

Tanggapan KPU setelah kemenangan di MK sebenarnya bagaimana?

Ya mereka konsekuen. Mereka OK-OK saja. Jadi, dengan tuntutan saya yang tidak mau ikut lagi kalau ada putaran keempat, majelis hakim tampaknya bingung. Salah seorang majelis hakim menyatakan, tidak ada tuntutan seperti itu, yang menyatakan tidak mau lagi bertarung. MK ini kan memutuskan bukan berdasarkan kasihan. Hakim MK Ibu Maria bilang, ajukan dulu tuntutan, nanti majelis hakim MK yang mengurus. Ia juga bilang, masa sudah dua tahun proses Pemilukada ini tidak selesai-selesai. Yang aneh lagi bagi saya, kata Ibu Hakim itu, yang menang sudah tidak mau lagi bertarung. Yang kalah ini malah mau bertarung terus. Jadi, kapan selesainya?

Anda sendiri bagaimana tanggapannya?

Saya bilang, pokoknya Bu, dengan hormat saya tidak akan ikut lagi jika Pemilukada ini diulang untuk keempat kalinya. Saya sudah capek, masyarakat Bengkulu Selatan juga begitu. Juga saya dengar masyarakat sudah bosan dan tidak mau memilih lagi. Sebenarnya saya sudah menang, tapi karena dimainkan itulah proses Pemilukada Bengkulu Selatan menjadi berlarut-larut. Maka saya bilang, saya relakan saja Bu Hakim. Mau dilantik Pak Ramlan silakan, mau dilantik Pak Dirwan silakan, mau dilantik Pak Gusnan, silakan. Saya tidak mau menuntut, dan saya tak akan ikut lagi Pemilukada kalau empat kali diadakan. Sudah, sidang lagi dan saya menang. Permohonan saya dikabulkan. Dua kali saya menang di MK. Rangkaian pengalaman saya ini langka, jarang ada proses Pemilukada yang seperti ini. Sekarang ini bocoran-bocoran, ini cerita belakangan, entah ya atau tidak. Kabarnya, putaran pertama itu saya sudah menang di KPU. Putaran kedua juga saya menang. Sebenarnya bukan saya hebat, tapi masyarakat Bengkulu Selatan mengenal saya. Saya itu memang sering turun ke tengah masyarakat sejak dulu.

Sebenarnya bagaimana ceritanya sehingga Anda maju sebagai calon Bupati?

Pada 2000 lalu, ada pemilihan gubernur Bengkulu. Saya mendukung Pak Kukun (Kurnia Utama) nomor urut lima. Pak Kukun ini kakak orang tua isteri saya. Karena Pak Kukun tinggal di kabupaten lain (Lebong), kalau kampanye di Manna, ya datang ke rumah saya. Tapi, Pak Kukun tidak lolos putaran kedua. Nah di putaran kedua, saya mendukung Agusrin nomor urut 3 karena dia itu orang Manna. Dalam perjalanan persiapan putaran kedua, Agusrin itu menyatakan salut sama saya karena begitu banyak yang mengenal saya. “Alangkah banyak yang mengenal kamu. Kamu saja yang maju, saya nggak,” kata Agusrin bercanda saat itu.

Tanggapan Anda?

Saya bilang sama Agusrin, tak usahlah berbicara begitu. Selanjutnya saya juga bilang kepada Agusrin, kalau kamu jadi Gubernur kan saya bisa mencalonkan diri sebagai Bupati di Bengkulu Selatan. Nah, akhirnya Agusrin menang. Setelah Agusrin dilantik menjadi gubernur, saya teringat lagi obrolan canda-canda saat itu. Maka ketika saatnya Pemilukada di Bengkulu Selatan tiba, saya sikapi canda-canda itu dengan mencalonkan diri dalam Pemilukada di kabupaten ini.

Sepertinya tidak terlalu serius nih pencalonannya?

Serius atau tidak, slogan saya dalam Pemilukada Bengkulu Selatan itu memang agak aneh. Slogannya berbunyi Kekalu Jadi Bupati. Dalam bahasa Indonesia mungkin siapa tahu menjadi bupati, insya Allah menjadi bupati. Seperti itulah. Masyarakat sudah ada yang menyarankan ganti saja slogannya. Tapi kata-kata itulah yang menurut saya pas. Kita berharap dan berusaha. Kalau slogannya Harus Menjadi Bupati, kesannya sombong atau nekat. Mungkin slogan itu juga yang menyentuh warga Bengkulu Selatan.

Filosofi kekalu itu apa?

Ya kita bukan ngotot ingin menjadi Bupati. Kekalu itu juga dapat diartikan siapa tahu rakyat percaya kepada saya.

Setelah terpilih menjadi Bupati, bagaimana Anda melihat kilas balik pembangunan di Bengkulu Selatan?

Kesimpulan saya, pembangunan kabupaten itu memerlukan semangat pemimpinnya. Kalau pemimpin kabupaten tidak semangat mengembangkan kabupatennya, maka kabupaten itu akan ketinggalan. Tapi bukan berarti saya sekarang memimpin ini Bengkulu Selatan langsung tidak ketinggalan. Bukan begitu. Masih banyak syarat yang harus terpenuhi. Pada zaman sekarang ini faktor pendekatan pemimpin dan kepercayaan kepada pemimpin akan ikut berpengaruh terhadap pembangunan kabupaten. Saya bisa kemukakan contohnya.

Contohnya?

Ada kisah salah satu kantor instansi pemerintah di Kabupaten Bengkulu Selatan ini. Beberapa tahun lalu mereka mengembalikan dana. Mereka mendapat bantuan dana tapi proyeknya tidak mereka realisasikan dengan berbagai alasan. Mungkin karena takut ada kasus, waktu yang terlalu mendesak, tidak ada lokasinya, ya karena tidak siaplah, jadi, mereka kembalikan dana itu. Sekarang, ketika kami meminta dana itu, ada data mereka pernah mendapat dana itu. Jadi, permintaan kami sekarang ini masih harus dipelajari dulu.

Apa artinya pengembalian dana itu?

Ini soal karakter pemimpinnya dalam mengemban kepercayaan dan amanat yang sudah ia sandang. Pemimpin yang sudah mengemban kepercayaan seharusnya berani mengambil sikap untuk membangun daerahnya. Kalau pemimpinnya tidak berani, meskipun sudah mendapat kepercayaan, tetap tidak akan maju daerah itu. Buktinya, dana yang sudah disediakan saja dikembalikan. Kira-kira begitulah. Berani di sini bukan asal berani, melainkan bertanggung jawab atas kepercayaan yang ia emban.

Dari pengalaman itu, sikap kepemimpinan Anda bagaimana?

Maka saya anjurkan kepada setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah, juga para anggota Dewan, jika ada peluang dari pusat untuk mengembangkan daerah ini, kita harus memanfaatkannya secara optimal. Misalnya, ada beberapa tokoh asal Manna di Jakarta berinisiatif untuk membantu pengembangan daerah ini. Ya saya buatkan SK percepatan pembangunan. Saya ajak Kepala Dinas PU dan beberapa SKPD untuk terlibat di dalamnya. Memang belum terlihat titik terangnya, tapi mudah-mudahan 2-3 bulan ke depan sudah kelihatan karena tahun anggaran kan baru mulai.

Nama Anda kan Reskan Effendi, tapi masyarakat Bengkulu Selatan lebih mengenal Anda sebagai Pak Bowo?

Ceritanya, saya ini pegawai negeri yang harus mencari penghasilan tambahan. Jadi, saya masih berkebun, beternak, berusaha sampinganlah. Ketika anak pertama saya lahir, saya beri nama Wibowo. Kemudian saya buka toko, namanya Toko Wibowo, buka perusahaan juga pakai nama Wibowo. Masyarakat di sini biasa memanggil Anda dengan nama anak sulungnya, maka saya lebih mengenal saya dengan nama Pak Bowo, bapaknya Wibowo.

Apa saja program Anda sebagai Bupati?

Yang jelas, saya akan berusaha mewujudkan janji-janji semasa kampanye dulu. Ketika itu saya banyak mendapat bisikan agar menjadikan pembangunan pembangkit listrik di Aek Manna sebagai salah satu janji kampanye. Maklum Bengkulu Selatan ini masih krisis listrik. Saya akan berusaha mewujudkan proyek pembangkit listrik ini. Kalaupun bukan di masa saya, paling tidak ada rintisan saya untuk membangun pembangkit ini.

Sejauh ini perkembangannya bagaimana?

Saya sudah ke sana ke mari, ke Jakarta juga. Ternyata para investor sudah mulai survei. Ini selaras dengan arah pembangunan kelistrikan kita yang memprioritaskan pembangkit tenaga surya, angin, dan air. Bahan bakar minyak kita, batu bara kita, kayu kita kan makin sedikit. Memang masih ada alternatif pengembangan biodiesel. Kalau setiap rumah tangga memiliki dua ha kebun sawit, hasilnya bisa kita jadikan bahan bakar juga.

Bagaimana Anda melihat potensi ekonomi Bengkulu Selatan?

Sebelum dimekarkan, Bengkulu Selatan ini merupakan Kabupaten paling luas di Provinsi Bengkulu. Kabupaten Seluma dan Kaur dulu merupakan wilayah Bengkulu Selatan. Nah setelah pemekaran, Bengkulu Selatan mendapat wilayah yang sudah berkembang mengarah ke perkotaan, yaitu Manna dan sekitarnya. Ke barat dibatasi laut, ke timur hutan lindung, ke Selatan sudah menjadi Kabupaten Kaur, dan ke utara sudah menjadi Seluma. Areal perkebunan kita berkurang, juga ada hutan lindung. Kondisi alamnya berbukit-bukit. Untuk memanfaatkan laut, jarak wilayah penangkapan ikan itu sudah menghabiskan sekian banyak bahan bakar sehingga para nelayan sulit mengimbangi pengeluaran bahan bakar dengan hasil tangkapan.

Jadi bagaimana?

Untuk membangun perkebunan besar kelapa sawit misalnya, lahan kita sudah sangat terbatas. Oleh sebab itu saya anjurkan melalui para camat agar masyarakat sendiri yang mengupayakan lahannya, apakah itu yang luasnya dua, tiga, atau empat hektare, buka kebun sendiri saja. Ada pengusaha yang mau membangun pabrik kelapa sawit di sini, tapi membutuhkan lahan luas. Saya sulit memenuhinya. Biarkan saja rakyat yang berkebun, bisa sawit atau karet. Wilayah perkebunan yang luas sudah menjadi kabupaten Seluma dan Kaur. Tambang batu bara dan pelabuhan juga masuk wilayah Seluma. Manna ini mendapat wilayah kotanya saja.

Apakah ada terobosan yang dapat Anda kemukakan?

Ya kita akhirnya berpikir menjadikan Manna sebagai kawasan pendidikan dan pariwisata. Untuk pariwisata, Manna paling dekat ke Sumatera Selatan dibandingkan Kaur dan Seluma, misalnya. Dengan kondisi jalan yang buruk, dari Manna ke Tanjung Sakti, Sumatera Selatan, hanya dua jam. Ke Palembang, jika jalan normal hanya empat jam. Oleh sebab itu saya sudah berbicara dengan pemerintah provinsi. Jika mereka mau bantu Manna, perbaiki jalan menuju Tanjung Sakti. Dengan begitu, kita bisa menjadi kawasan wisata untuk masyarakat Sumatera Selatan. Warga Lahat, Pagaralam, dan sekitarnya di Sumatera Selatan kalau mau melihat laut kan datang ke Manna. Lantas kita jadikan Manna sebagai kota transit bisnis dari Bengkulu ke Sumatera Selatan dan ke luar Sumatera. kalau mau ke luar Sumatera dari Bengkulu melalui Lampung, kan harus lewat Manna. Lewat Sumsel, lewat Manna muncul di Baturaja.

Terobosan lain?

Sebenarnya Anggota DPRD di Bengkulu Selatan ini sering mempersoalkan luas wilayah Bengkulu Selatan yang menyempit. Lantas mereka mempersoalkan perbatasan dengan kabupaten Kaur dan Seluma. Sekarang saya bilang kepada para anggota Dewan agar mereka tak perlu mempersoalkan lagi perbatasan. Yang perlu dipersoalkan adalah luas kabupaten induk yang tidak boleh lebih kecil dari luas kabupaten pemekaran. Ini yang terjadi di Bengkulu Selatan. Jadi kita ingin memperjuangkan revisi Undang-Undang terkait pemekaran kabupaten. Satu poin saja untuk keadilan, bahwa kabupaten induk tidak boleh lebih kecil dari kabupaten pemekaran.

Berapa penyusutan Bengkulu Selatan setelah pemekaran?

Ya Bengkulu Selatan ini tinggal 1/5 dari luas asalnya. Seluma dan Kaur masing-masing 2/5 dari wilayah Bengkulu Selatan sebelum pemekaran. Sebagai perbandingan, Bengkulu Selatan itu dari ujung ke ujung hanya 40 km. Sementara untuk Seluma saja, dari ujung ke ujung harus ditempuh dua jam lebih, hampir tiga jam. Jadi ada yang janggal dan terasa kurang adil di sini.

Nilai artikel ini
(0 Penilai)

Silakan berkomentar

Pastikan Anda mengisi kotak bertanda bintang.
Silakan gunakan kode HTML dasar.