• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Kam 24 08 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back Wawancara yang Sesungguhnya Dwie Aroem Hadiatie

Dwie Aroem Hadiatie

Dimuat pada: 01 Februari 2012

 

Dwie Aroem Hadiatie

Dwie Aroem Hadiatie

Wawancara Lengkap
Foto-foto

Sebagai tokoh muda perempuan nasional, Dwie Aroem Hadiatie mengaku harapannya tentang keinginan memaksimalkan peran perempuan mungkin terlalu tinggi. Sebagai contoh, puteri tokoh Partai Golkar Lampung, M Alzier Dhianis Thabranie ini bilang, untuk memaksimalkan peran wanita di dunia politik secara umum saja, harus ada dukungan dan pengertian yang cukup dari keluarga maupun lingkungan sosial yang lebih luas terlebih dahulu. “Jika tidak ada dukungan dan pengertian lingkungan sosial dan keluarga, tidak akan maksimal apapun bentuknya. Perempuan akan dihadapkan dengan pilihan pilihan, yang sudah berumah tangga pasti tentu saja harus bertanggung jawab antara organisasi dan kewajiban rumah tangga. Begitu juga yang masih kuliah,” ungkap perempuan yang akrab disapa Aroem ini.

Di tingkat negara, ia mencontohkan kuota 30 persen calon anggota legislatif harus diisi perempuan. “Tapi koq, seolah- olah mengemis ya, perempuan hanya bisa duduk kalau dikasih kuota 30 persen,” ujarnya. Malah, sambungnya, sudah dikasih kuota 30 persen masih tidak memenuhi kuota tersebut.

Nah, kata Mbak Aroem, persoalannya akan sampai pada individu masing masing perempuan. Jika kualitas individu perempuan lemah, akan kelihatan: Meskipun dikasih kuota 30 persen kasarnya, yang 70 persen memandang ‘Anda ngasih 30 persen saja masih tidak mencukupi’. Seharusnya tanpa ada kuota 30 persen, perempuan Indonesia bisa maksimal perannya di luar peran alamiah. Intinya, kembali lagi ke individu masing masing dalam peran wanita di dunia politik. Berikut petikan wawancara Rina Dwi Andini yang ditemani fotografer Yogi Setiawan dengan Mbak Aroem:

Menurut Anda, program kerja mendasar apa yang cocok dilakasanakan untuk menunjang peran wanita Indonesia?

Kalau program kerja, itu tergantung bidangnya, tapi peran perempuan itu akan kelihatan kalau memang berpartisipasi aktif di bidang kita masing masing. Misalnya perempuan perempuan di Senayan (DPR), mungkin secara kuota 30 persen sudah mencukupi secara keseluruhan. Tapi, kan kita bisa lihat saat ini dari sekian banyak, dari sekian puluh perempuan yang duduk di Senayan mana yang kelihatan. Dari sisi individual, kita bisa melihat apakah dia pantas duduk di sana, dan dilihat dari sisi apa yang telah mereka lakukan? Seperti contohnya saya, mungkin orang tahunya saya di Partai Golkar sebagai perempuan di bidang politik, dan aktif juga di bidang pariwisata. Suatu saat saya duduk di Senayan dan tidak melakukan sesuatu untuk bangsa, untuk apa saya ada di sana? Sama saja bohong. Jadi, jika saya ditanya kegiatan apa yang bisa mendukung atau memberikan support perempuan di Indonesia adalah tergantung bidangnya mereaka masing masing, mereka maunya dimana.

Seharusnya perempuan yang sudah aktif di Senayan dan misalnya mereka berada di komisi 10 bidang pendidikan, perlu bertanya, apa yang telah mereka lakukan untuk dunia pendidikan di Indonesia ini. Tidak usah kita bahas Indonesia, itu terlalu besar menurut saya, daerah pemilihannya sendiri saja. Jika itu sudah terlihat hasil kerjanya baru kita lihat ke yang lain. Jadi, kalau ditanya program yang tepat, jawaban saya tergantung bidangnya yang akan di tonjolkan dan orang mau tau saya ini seperti apa? Di bidang politik atau mau aktif di bidang sosial, kesehatan, pendidikan, atau bidang lain. Hal itu tidak hanya cukup dengan niat baik. Kan harus ada kerja nyata. Dengan begitu orang akan melihat dan orang akan memposisikan diri kita sebagai perempuan yang aktif dan profesional di bidangnya masing-masing.

Lantas, apa agenda Mbak Aroem di bidang politik?

Kalau di bidang politik, jika hal yang berhubungan dengan organisasi pasti ada program politiknya. Untuk di AMPI, saya punya rencana ke depan pada 2012 ini harus ada kaderisasi politik. Kaderisasi politik itu adalah kader-kader politik yang dilahirkan atau dibentuk dari AMPI dan mempunyai mindset sama. AMPI harus memiliki kader-kader politik yang baik, yang kita persiapkan dari awal. Nah itu kancah penggodokan, kalau perempuan dari Kartini AMPI. Itu yang mau saya buat ke depan. Pada 2012 ini konsep pemikiran misalnya, apa saja sih yang harus ada di kader-kader politik AMPI. Nanti itu akan kita godok pada saat saya mengundang seluruh ketua AMPI di bidang politik seluruh Indonesia. Di isitu nanti ada diskusi panel, focus group discussion apapun bentuknya itu, intinya kita memikirkan bagaimana kader-kader politik AMPI yang memang akan kita kawal terus di jalur politiknya. Karena kita sekarang berbicara masalah Undang-Undang Politik, UU Pemilu, UU Pemilukada, mereka belum tentu mengetahui isinya apa saja. Mau mengomentari tapi tidak tahu apa yang dikomentari, apa sih yang penting didalamnya?

Mengapa saya mengundang ketua AMPI se-Indonesia? karena permasalahan politik itu tidak lepas dari kepentingan di daerah, dan yang paling tahu permasalahan di daerah itu adalah mereka yang di daerah, bukan kita yang ada di pusat. Untuk melahirkan kader-kader politik itu ,kita tidak bisa melepas mereka dari permasalahan permasalahan di daerah. Jadi kita tahu, seperti di Papua sistem pemilihan itu seperti apa dan di Aceh seperti apa agar tidak terjadi penembakan atau kerusuhan lainnya. Itu yang harus kita pikirkan di AMPI dan harus ada solusi untuk penyelesaian masalahnya. Karena menurut saya, yang namanya keadilan dari sisi politik dan sisi hukum itu bukan hal yang sama rata tapi adil yang sesuai dengan kebutuhan masing masing.

Seperti kasus pilkada di Aceh atau Papua, menurut saya pilkada di sana yang sudah memiliki otonomi khusus, yang namanya otonomi khusus, ya berarti khusus. Tidak bisa pemilihan langsung itu disamaratakan, untuk pemilihan tingkat Bupati maupun di tingkat Gubernurnya. Harusnya Aceh itu cukup melalui DPRA (Dewan Perwakilan Rakyat Aceh) atau di Papua DPRP (Dewan Perwakilan Rakyat Papua). Hal itu meminimalisir pergesekan di sana antarmassa pendukung pilkada dan hal itu bisa dimanfaatkan oleh pihak lain.

Untuk agenda politik ini berangkatnya dari mana?

Kalau saya memulai dari unit yang terkecil dan memang ini benar benar tanggung jawab saya. Posisi saya di Partai Golkar di bidang pendidikan, tentunya di departemen, saya lebih memiliki otoritas dan kewenangan yang lebih luas kalau saya melakukan sesuatu itu melalui AMPI atau Kartini AMPI. Karena tanggung jawab saya sebagai Korwil membentuk Kartini AMPI di tujuh wilayah, terakhir di Lampung yang sudah terbentuk. Yang saya lakukan adalah membentuk Kartini AMPI terlebih dahulu di tujuh wilayah. Karena AMPI, Kartini AMPI maupun Partai Golkar, yang namanya organisasi atau partai itu adalah kendaraan, media, jadi Kartini AMPI yang saya pergunakan untuk membangun. Misalnya, perempuan politik, saya juga memiliki rencana untuk concern di bidang pendidikan seperti yang kita lihat bahwa yang minim di Lampung dan yang bisa kita masuk itu adalah wilayah pendidikan dan kesehatan. Kenapa kesehatan? karena di Lampung masih banyak ditemukan kasus busung lapar, di situ Kartini AMPI bisa masuk ke sana dan tidak mungkin saya sendirian sebagai individu meskipun di belakang saya banyak oraganisasi.

Selanjutnya?

Untuk saat ini saya membentuk Kartini-Kartini AMPI di provinsi dan sampai tingkat kabupaten kota yang memang menjadi tanggung jawab saya. Kemarin saya dikasih target membentuk Kartini AMPI satu bulan di dua provinsi, target itu harus saya penuhi dan itu belum termasuk kabupaten-kotanya. Jika semua itu sudah terbentuk, sudah ada Kartini AMPI di kabupaten kota, tentunya kita bisa langsung membuat program kerja. Seperti di Lampung, fokusnya dua bidang yaitu kesehatan dan pendidikan. Kita melihat dari empat bidang di AMPI ini mana yang paling banyak bisa kita lakukan sesuatu untuk daerah dan yang saya lihat dua bidang yang lain berjalan juga tapi saya lebih ke bidang pendidikan dan kesehatan karena menurut saya itu yang paling dibutuhkan di Lampung. Mungkin jika saya ditugaskan di daerah lain akan berbeda lagi apa yang saya lakukan tergantung dengan kebutuhan di daerah itu.

Kendala apa yang dialami selama melaksanakan program kerja?

Masalah kendala tidak ada menurut saya. Kalau di daerah tentu saja banyak (kompleks). Tapi secara umum saya lihat tidak ada masalah, selama komunikasi yang terbangun, jaringan terbentuk dan ada dana. Karena ujung ujungnya tetap finansial. Maka dari itu saya mendukung bahwa kader muda AMPI harus memiliki kemandirian. Tanpa itu kita tidak akan bisa jalan.

Antisipasi dan solusi apa yang Mbak Aroem terapkan jika terjadi kendala dalam melaksanakan program kerja?

Seperti di Lampung, saat ini saya di Lampung bertanggung jawab atas Kartini Lampung. Meskipun secara umum sudut pandang dan performa wanita itu lebih luwes untuk masuk ke semua lini, Kartini AMPI, di belakang ada AMPI dan di belakang AMPI ada Partai Golkar. Nah, sudah ada stigma stigma negatif yang akan menghambat perjalanan ini. Pertama, Gubernur Lampung bukan dari Partai Golkar dan semua hal yang saya prediksi, hambatannya hanya dari sisi kepartaian, dari segi organisasi . Kalau dilihat dari masyarakat sendiri, masyarakat kita semakin lama semakin susah dan mereka tidak mungkin menolak bantuan dari kita. Dari segi bantuan untuk warga Lampung berupa layanan puskesmas, kita bantu fasilitasi pengobatan penyakit busung lapar, kaki gajah dan penyakit yang biasanya mewabah.

Di Lampung saat ini strategi yang tepat adalah kita bangun lima wilayah daerah percontohan. Misalnya di Kabupaten Pesawaran, kita rencanakan akan membangun perpustakaan di kecamatan-kecamatan, pengelolanya Kartini-Kartini AMPI. Karena di daerah pesisir pantai, kita akan perbanyak buku buku tentang kelautan. Buku buku yang ada di perpustakaan setiap enam bulan sekali selalu diperbaharui.

Hasilnya?

Saya juga melakukan langkah langkah lain. Saya membangun komunikasi dan hubungan yang baik dengan pihak terkait seperti dengan departemen pendidikan, dengan Komisi 10 bidang pendidikan. Yaitu saat kita perlu bantuan mereka untuk turun ke daerah untuk memberikan penyuluhan atau melakukan sosialisasi Undang-Undang dari sisi pendidikan. Sejauh ini mereka menyangka orang yang sudah duduk di Senayan sudah sangat ekslusif sehingga jarang sekali figure-figure yang mau bersentuhan langsung dengan masyarakat bawah yang memang berawal dari niat baik tanpa harus bermewah-mewahan, dan itu yang saya harapkan bisa menjalin kerja sama yang baik.

Apa pandangan Anda tentang hak dan kewajiban asasi manusia?

Banyak yang selalu menuntut masalah HAM (Hak Asasi Manusia). Tapi mereka tidak berkaca bahwa mereka juga mempunyai kewajiban. Contoh kasus Mesuji. Itu kasus lama dan baru terungkap secara jelas dan berdampak negatif bukan hanya di tingkat nasional dan kasus itu baru terungkap pada 2011. Kenapa bisa terjadi kasus tersebut? Itulah salah satu contoh tidak adanya kesadaran bahwa kita sebagai individu punya kewajiban asasi. Jadi menurut saya kewajiban asasi itu harus tumbuh dari individu masing masing. Melihat dari contoh kasus Mesuji harus dilihat dari unit yang terkecil dan mencari solusi agar masalah tidak berkepanjangan dengan semangat demokrasi. Semangat bahwa kesadaran kita juga memiliki kewajiban asasi manusia dan itu harus tumbuh dari unit yang terkecil. Jika memang sudah terjadi, kita yang ada di partai dan organisasi kepemudaan harus turun ke lapangan melihat ke masyarakat tentang permasalahannya apa, atau memberikan penyuluhan lagi bahwa hal hal seperti yang di Mesuji atau di daerah lainnya yang memiliki konflik yang sudah lama tapi baru diblow-up sekarang. Harus dari mereka yang harus di pertanyakan, jangan kita hanya menyalahkan pemerintah, menyalahkan perusahaan.

Jadi?

Kita sebagai individu harus sadar bahwa kita mempunyai hak dan kewajiban. Hal itu harus di support dari organisasi. Korupsi dan permasalahan permasalahan yang lain sudah ter system bukan hanya di Mesuji tapi di seluruh Indonesia ini tersystem. Bagaimana kita memperbaikinya? yaitu dari kita yang masih muda untuk memperbaikinya dan sadar akan kewajiban asasi manusia.

 

PERSONAL PROFILE

I am a passionate and enthusiastic individual who strives to learn new things every day. I have exceptional communication and tem-working skills. Which am I develop from project-filled courses in University and Organizational fields. I manage stress well and am very competent to work deadlines. I make every effort to do the best that I can and try to outperform even my own expectations. Originally and creativity is regarded as one of my strong points. I am versatile and can adapt to new situations easily.

PERSONAL DETAIL
Full Name: Dwie Aroem Hadiatie
NPAPG: 0809. 012.1980
Sex: Female
Place, DOB: Lampung, 1st February 1980
Nationality: Indonesia
Relationship Status: Single
Religion: Moslem
Parents Name
Father: M. Alzier Dianis Thabranie
Mother: Rr. Siti Sundari
Health: Perfect

Nilai artikel ini
(1 Penilai)

Manuskrip terkait (menurut tag)

Yang lain di kategori ini: « Ir Zahruddin MSi Edi Langkara »

Silakan berkomentar

Pastikan Anda mengisi kotak bertanda bintang.
Silakan gunakan kode HTML dasar.