• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Sel 27 06 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Ir Zahruddin MSi

Dimuat pada: 24 Februari 2012

 

Ir Zahruddin MSi

Ir Zahruddin MSi

Wawancara Lengkap
Foto-foto

Jika ingin memahami Kota Banda Aceh, tanyalah kepada tokoh bernama lengkap Ir Zahruddin MSi ini. Meniti karir di Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda Aceh, kini ia menjabat sebagai kepala dinas. Lebih dari itu, lewat tangan dinginnya, Kota Banda Aceh pada 2011 meraih penghargaan sebagai kota dengan tata ruang terbaik se-Indonesia. Pada tahun sebelumnya, Banda Aceh meraih penghargaan sebagai kota terbaik di bidang penataan ruang secara berkelanjutan. Rina Dwi Andini dan Yogi Setiawan menemui Zahruddin untuk berbincang. Berikut ini petikannya:

Bagaimana Anda melihat pemuda Aceh?

Sebelum kejadian tsunami, Aceh masih dalam kondisi konflik dan kurang berkembang. Tapi setelah tsunami dan MoU dari pihak-pihak pemangku kepentingan, sudah mulai tampak perubahan pasca perdamaian pada Agustus 2005. Menurut saya itu adalah tantangan sekaligus harapan masyarakat Aceh dan para pemuda Aceh khususnya. Kita harapkan pemuda Aceh lebih aktif berpartisipasi dalam semua lini kehidupan masyarakat terutama di bidang pendidikan, pengabdian di lembaga swadaya masyarakat dan lembaga lembaga formal lainnya. Hikmah tsunami 26 Desember 2004 itu adalah pesatnya pembangunan infrastruktur dan pembangunan bidang lain seperti sosial dan ekonomi. Peran serta masyarakat dan para pemuda serta alumni perguruan tinggi merasa terakomodasi dan dengan antusias mereka berperan serta dalam pembangunan kabupaten dan kota di Aceh.

Peran Anda sendiri bagaimana?

Pada 2005 kebetulan saya menjadi Kepala Bappeda Kota Banda Aceh. Jadi, pasca tsunami itu hadir Badan Rehabilitasi dan Rekronstruksi (BRR) Aceh. Dengan bantuan BRR di bawah pimpinan Pak Kuntoro Mangkusubroto, banyak sekali NGO (Non Government Organization) dan lembaga lembaga nonprofit dari luar negeri yang berperan serta di Aceh. Mereka juga merekrut para pemuda di Aceh. Mungkin karena mereka melihat potensi dan kemampuan menjelajah hampir seluruh wilayah Aceh. Saat itu memang dibutuhkan orang yang memiliki kemampuan lebih, di bidang bahasa, dan disiplin ilmu. Sangat banyak pekerja pekerja luar negeri dari lembaga lembaga NGO itu didampingi oleh tenaga kerja muda. Menurut saya itu suatu potensi yang dengan sendirinya akan berkembang. Pasca BRR, bantuan otonomi khusus Aceh yang sedang bergulir akan menjadi tantangan bagi pemuda di sini untuk berperan mengembangkan Aceh secara keseluruhan.

Kondisi terakhir pemuda Aceh di bidang politik?

Peran serta pemuda tidak terlalu menonjol dalam lini lini tertentu, terutama di bidang politik meskipun di Aceh ada partai lokal dan nasional. Para pemuda berharap partai-partai nasional memiliki banyak kader dari kalangan pemuda dan muncul tokoh tokoh muda baru. Demokratisasi di Aceh sangat marak. Namun, artikulasi politik pemuda berlangsung lebih banyak melalui LSM dan organisasi massa, apakah itu ketika berhadapan dengan eksekutif maupun legislatif. Mereka menemui pejabat eksekutif di kantor instansi terkait. Begitu juga di legislatif, DPR Aceh kan sering ramai oleh demo kalangan pemuda. Demokrasi berjalan di sini.

Di luar politik seperti apa pemuda Aceh sekarang?

Potensi sektor informal akan diarahkan untuk pemuda yang belum banyak berperan, kemudian kita harapkan mereka akan meningkat usahanya menjadi sektor formal, baik usaha kecil, menengah maupun besar. Minat pemuda dalam wirausaha mulai meningkat, walaupun mungkin masih banyak didominasi oleh perusahaan perusahaan yang sudah mapan. Tapi, saya kira mereka sudah bergerak pada saat ini. Untuk bidang jasa khususnya infrastruktur, peran pemuda sudah semakin menonjol.

Kalau begitu, kualitas infrastrukturnya bagus dong?

Sebelum tsunami kondisinya sudah lumayan dan layak sebagai ibu kota provinsi. Pasca tsunami, dari sembilan kecamatan, tiga hancur total. Dua kecamatan 60 persen hancur, dan lainnya relatif baik. Dengan jumlah korban sekitar 60.000 di Banda Aceh saja, tsunami menjadi bencana sangat besar. Pada saat kejadian saya bertugas di Dinas PU Provinsi. Kemudian beralih ke Banda Aceh sebagai Kepala Bappeda. Tugas dari Pak Wali Kota sangat menantang karena harus menata dan membangun kembali infrastruktur terutama belasan ribu perumahan rakyat. Alhamdulillah dengan bantuan BRR dan negara donor, lebih dari 23.000 lebih unit rumah dibangun. Masih ada sedikit warga belum mendapat permukiman, namun itu sudah diprogramkan pasca BRR. Yang paling berat adalah kerusakan infrastruktur jalan di kawasan yang hingga dua km dari bibir pantai. Ini membutuhkan dana sangat besar. Di samping itu di beberapa kawasan kita bangun yang dinamakan escape road, jalur untuk menghindari bencana bagi warga yang berada di bibir pantai: Posisinya lurus dari pantai ke arah gunung. Belum lagi pasar, kantor pemerintahan, dan bangunan lain semisal puskesmas serta sekolah. Kita pun harus membebaskan tanah hingga 500 meter dari bibir pantai agar tak dihuni oleh warga. Beberapa warga ingin segera mendapat dana kompensasi, tapi memang dananya terbatas.

Menurut Anda apa sebabnya Banda Aceh menjadi kota dengan tata ruang terbaik di Indonesia pada 2011?

Salah satunya, menurut saya, adalah village planning, perencanaan wilayah hingga perkampungan yang dibantu oleh konsultan dan para arsitek muda dari berbagai wilayah Aceh. Ada salah satu kampung, Lambung namanya, yang 100 persen ditata ulang. Ini jarang terjadi, dan kampung tersebut menjadi contoh inspirasi Kota Banda Aceh pasca tsunami untuk membuat tata ruang baru dan telah disahkan oleh Kanun (Perda) No 4 Tahun 2009 yaitu Rencana Tata Ruang Wilayah 2009-2029. Ada pula tiga escape building di Kecamatan Meuraksa, lengkap dengan helipad dan gedung berlantai empat muat untuk 2.000 orang bagi orang tua yang tidak sanggup berlari menyelamatkan diri. Ini dibangun melalui kerja sama pemuda Aceh dan para pakar dari dalam dan luar negeri. Dengan membangun infrastruktur, termasuk daerah wisata di pinggir pantai, para pemuda bisa berkembang sendiri tanpa meminta bantuan dari pemerintah. Terlebih lagi, tahun lalu kita sudah mencanangkan Visit Banda Aceh Year 2011. Banyak turis asing dan lokal datang ke Banda Aceh. Ini menjadi peluang usaha bagi generasi muda.

Turis asing dan syariat Islam tidak berbenturan?

Kalau berbenturan, koq mereka mau datang? Secara umum penerapan syariah di Banda Aceh tidak bertentangan dengan kehidupan modern.

Apa wisata yang menarik bagi turis itu?

Sisa-sisa tsunami menjadi tujuan wisata. Juga wisata spiritual. Mereka bisa melihat korban tsunami cepat bangkit. Hebatnya orang Aceh, mereka tidak pernah putus asa dan tidak pernah menyalahkan siapapun dalam menghadapi bencana alam dan bangkit terus melihat ke depan tanpa melihat kejadian pahit yang sudah terjadi. Aktivitas sekarang sudah kembali normal seperti biasa.

Kesan Anda terhadap penghargaan tata ruang untuk Kota Banda Aceh?

Untuk 2011 kita mendapat urutan kedua dalam pengelolaan jalan dan peringkat pertama dalam bidang penataan ruang. Sebagai aparatur pemerintah kota dan Kepala Dinas PU, saya berterima kasih kepada seluruh rekan-rekan di Indonesia dan negara negara yang membantu Kota Banda Aceh dalam membangun kembali pasca tsunami. Kota ini berubah menjadi lebih baik pasca tsunami.

Lebih baik itu seperti apa?

Saat ini infrastrukturnya terus berkembang. Antara lain rumah sakit, air mineral, dan fasilitas umum serta fasilitas sosial untuk masyarakat. Ini adalah pengembangan dari fasilitas yang sudah ada di kota Banda Aceh, termasuk fasilitas air minum. Fasilitas air minum kota Banda Aceh, misalnya. Kalau kita lihat masterplan pembangunan jangka panjang (MPJP) Tahun 2015 targetnya 80 persen jumlah penduduk Kota Banda Aceh akan terjangkau akses air minum. Sekarang sudah 81 persen, itu sudah melampaui batas yang ditargetkan. Memang alat alat yang digunakan untuk pengadaan sarana air bersih itu mendapatkan bantuan dari Jepang dan pemerintah. Namun, masyarakat juga perlu membayar iuran untuk dana pengelolaan operasional fasilitas bersih tersebut.

Kabarnya Kota Banda Aceh kekurangan ahli untuk pengembangan jalan dan jembatan. Apa solusinya?

Memang, Aceh setelah tsunami masih kekurangan menampung ahli dalam bidang pengembangan jalan. Kebetulan saya juga berperan sebagai sekretaris umum DPD Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia. Pada pasca tsunami dan konflik, banyak dana bantuan yang masuk untuk membangun infrastruktur, dan pemerintah propinsi aceh memiliki program program pembangunan yang membutuhkan dana triliunan. Belum lagi dana otonomi khusus melalui pemerintah pusat ke pemerintah Provinsi Aceh senilai Rp10 triliun lebih. Dengan dana sebesar itu, tentu kita membutuhkan banyak pekerja ahli.

Apa saja yang akan dibangun?

Kota Banda Aceh saja, pasca tsunami dan konflik, membutuhkan pembangunan jalan untuk akses daerah-daerah terisolir, membuka jalur ke pelabuhan, ekonomi kerakyatan, sentra produksi, dan sentra perikanan. Sebagian sudah kita laksanakan pembangunanya dan sebagian masih usulan program.

Jadi?

Ya, kita sekarang giat memberikan pelatihan dan pembentukan tenaga ahli di Kota Banda Aceh karena kita butuh banyak tenaga ahli. Pelatihan ini sudah berjalan secara teratur sejak 2006. Kegiatan ini bekerjasama dengan BPP HPJ pusat dan bekerjasama dengan LPJK daerah .dan pelatihan ini dilakukan secara selektif sekali untuk menghasilkan tenaga tenaga ahli yang berkualitas. Dinas Bina Marga Provinsi juga sudah bekerja sama dengan Kementerian PU, membentuk lembaga pelatihan di Kota Banda Aceh untuk mendidik tenaga tenaga ahli. Ormas AMPI pun pernah melaksanakan pelatihan dan pengkaderan kepemudaan di Aceh pada 2007. Di situ kita sepakat dengan kegiatan kegiatan kepemudaan yang kita harapkan para pemuda itu lebih mengedepankan kewirausahaan untuk kemandirian di bidang kepemudaan di seluruh indonesia bukan hanya di Aceh.

Ngomong-ngomong, Anda juga Ketua Umum Persiraja Banda Aceh ya. Bagaimana prospek klub ini?

Ada tantangan buat kita, pengurus Persiraja, karena olah raga sepak bola juga merupakan hiburan bagi masyarakat. Masyarakat ingin melihat permainan bagus di setiap klub sepakbola. Nah, pada priode lalu kita menggunakan dana APBD. Tapi, saat ini Peraturan Pemerintah melarangnya. Jadi, kita mencari donatur dari perusahaan yang mau membiayai klub Persiraja. Konsekuensinya, kita harus bermain lebih baik dan mencari atlet sepak bola terbaik. Tapi, transfer pemain bagus untuk Persiraja agak sulit sebab dananya terbatas. Tapi, kami yakin dengan dana terbatas kita masih bisa berprestasi. Pada musim kemarin Persiraja menjadi runner up Divisi Utama dan sekarang menjadi tim promosi ke liga. Tim kita di IPL sudah berjalan bagus dan target kita menjadi lebih baik.

Pandangan Anda tentang kewajiban asasi manusia?

Menurut pandangan saya sebagai pegawai pemerintahan, yang pokok adalah pemerintah sanggup menjamin hak hak dasar terlebih dahulu. Hak dasar itu seperti sandang, pangan, papan. Kita berbicara itu terlebih dahulu sehingga masyarakat bisa berpikir jernih dalam menjalani kehidupannya. Menjadi kewajiban asasi bahwa masyarakat harus mendapatkan kehidupan lebih baik, membuka jalan, dan mengembangkan tenaga dan ilmunya. Misalnya, untuk petani, bagaimana agar hasil pertaniannya meningkat dan dijual dengan harga pantas. Begitu pula untuk sektor lainnya.

 

REKAM JEJAK

Ir ZAHRUDDIN MSi
Banda Aceh / 30 Juli 1962

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Banda Aceh
Ketua Umum PERSIRAJA Banda Aceh (2011-2015)
Sekretaris Umum DPD HPJI Aceh
Ketua DPD I AMPI Aceh (2010-2015)

Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan
LEMHANNAS RI - Angkatan PPSA – XVII/2011 (23-02-2011 s/d    11-08-2011)

Nilai artikel ini
(1 Penilai)

Manuskrip terkait (menurut tag)

Silakan berkomentar

Pastikan Anda mengisi kotak bertanda bintang.
Silakan gunakan kode HTML dasar.