• Gerbang
    • Berita Terbaru dari Semua Penjuru

  • S|U|M|A|T|E|R|A

    • 62 Tahun Bengkulu Selatan

      Pernah menjadi kabupaten terluas di Provinsi Bengkulu, Bengkulu Selatan kini telah mekar menjadi tiga kabupaten. Sebagai kabupaten induk, bagaimanakah Bengkulu Selatan di masa depan?

  • J|A|W|A
  • B|A|L|I & N|U|S|R|A
  • K|A|L|I|M|A|N|T|A|N
  • S|U|L|A|W|E|S|I
  • M|A|L|U|K|U
  • P|A|P|U|A

Sel 27 06 2017

Sentuhan Akhir09:31:06 AM GMT

Back Wawancara yang Sesungguhnya H Zulkarnain Karim

H Zulkarnain Karim

Drs H Zulkarnain Karim MM

Merintis Pasir Padi Waterfront City

Wawancara Lengkap
Foto-foto

Di bawah kepemimpinan Drs H Zulkarnain Karim MM, Pangkalpinang, Ibu Kota Provinsi Bangka Belitung, berkembang sangat pesat. Sebagian besar warga yakin, jika boleh menjabat tiga periode, Pak Zul, demikian panggilannya, pasti akan terpilih lagi. Namun, Zul akan segera mengakhiri tugas sebagai Wali Kota Pangkalpinang (2003-2013). Toh ia masih akan sibuk dengan pengembangan kota, terutama proyek raksasa Waterfront City (Kota Tepi Laut) di kawasan pantai Pasir Padi. Ikuti wawancara selengkapnya berikut ini:

Bagaimana Anda melihat Pangkalpinang sekarang?

Untuk melihat perkembangan sebuah kota, laju pertumbuhan jumlah penduduk adalah indikator penting. Nah, Pangkalpinang berdasarkan data Badan Pusat Statistik pada dua tahun lalu, jumlah penduduknya 174.295 jiwa. Akan tetapi sekarang jumlah itu sudah mencapai 200 ribu lebih. Bayangkan pertumbuhannya. Selanjutnya, dari jumlah 200 ribu lebih itu, perekaman Kartu Tanda Penduduk elektronik per 30 april 2012 mencapai 106.496 orang, dan sampai 22 Juni 2012 selesai tercetak 91.780 lembar. Sudah sampai di kecamatan-kecamatan dan siap dibagikan.

Jumlah penduduk meningkat pesat, ekonominya bagaimana?

Penduduk Pangkalpinang itu meningkat pada waktu siang dan berkurang pada malam hari. Itu berarti banyak yang menjadi penglaju (commuter) untuk kegiatan ekonomi. Jumlahnya cukup banyak, sekitar 12 ribu orang per hari masuk-keluar Pangkalpinang, dari Kabupaten Bangka Tengah dan Bangka induk, dan sebagian kecil dari luar provinsi.

Sektor ekonomi apa yang berkembang?

Di sini yang berkembang terutama sektor tersier (jasa) antara lain perdagangan, perbankan, konstruksi dan jasa lainnya. Sektor primer tak begitu banyak yaitu perikanan, pertanian, dan peternakan. Sedangkan sektor sekunder (industri pengolahan) terutama ikan daging lumat, dibikin kerupuk kemplang, kwetiau, otak-otak, bakso, dan makanan olahan hasil laut yang mengandalkan daging ikan lumat. Ada juga pengolahan timah. Pangkalpinang memiliki lebih dari 22 smelter peleburan timah, dan juga pengolahan karet.

Layanan jasa dan perdagangan apa yang menurut Anda cocok berkembang di sini?

Layanan jasa yang paling cepat berkembang ya pariwisata. Karena apa? Pertama, kuliner di sini bagus sekali seperti seafood. Kedua, sifat masyarakatnya mendukung perkembangan pariwisata, walaupun mereka tidak seperti orang Bali yang cepat menerima perubahan. Yang ketiga letaknya itu tadi dalam jalur internasional. Jadi, layanan jasa pariwisata yang paling mungkin. Yang menjadi masalah destination area-nya, tujuan pariwisatanya mau kemana? Maka saya membangun hutan taman kota, pusat cinderamata, dan industri rumahannya di bidang tekstil, garmen, dan kuliner tadi.

Dulu Bangka terkenal dengan ladanya. Sekarang bagaimana?

Sekarang produksi lada sangat tajam menurunnya karena biaya produksinya begitu tinggi. Di lain pihak, produktivitasnya rendah dan harga jual tidak dapat bersaing dengan produk luar. Dulu sekitar 80 persen lada dunia dihasilkan di sini. Sekarang sangat menurun, tak sampai 40 persen, dan sekitar 60 persen areal perkebunan sudah hilang. Pengolahan lada menjadi tepung lada pun jumlahnya tinggal sedikit.

Kabarnya kebun lada berubah menjadi lahan sawit?

Di Pangkalpinang pabrik CPO-nya tidak ada. Tapi, tangki tampung yang akan dibawa ke pelabuhan kemudian dikapalkan memang ada di sini. Di seluruh Bangka ada empat pabrik CPO sekarang ini. Memang kebun lada banyak berganti dengan kebun kelapa sawit.

Jadi, visi dan misi menjadikan Pangkalpinang sebagai kota perdagangan dan jasa berhasil?

Menurut saya untuk kota perdagangan dan jasa berhasil. Industrinya yang belum. Visi Pangkalpinang menjadi kota perdagangan dan jasa di Bangka Belitung pada 2013 relatif tercapai. Yang sekarang kita tungggu-tunggu ini yaitu pembukaan Bank Indonesia perwakilan provinsi untuk meningkatkan peredaran uang. Sekarang kalau uang sudah habis di sini kan minta keluar. Mobilisasi dana jadi tidak terkoordinir dengan baik. Sebetulnya cukup di sini jika ada kantor perwakilan Bank Indonesia. Tapi, itu pertanda bahwa selama 5-10 tahun ini visi menjadi kota pusat perdagangan dan jasa di Bangka Belitung sampai 2013 menurut saya ideal tercapai. Visi itu bukan hanya kita yang merumuskannya melainkan juga Bank Dunia waktu itu. Tetapi mungkin harus ditambah dengan industri.

Ada kendala industrialisasi?

Persoalannya kan listrik. Jika listrik masih seperti sekarang, nggak usah ngomonglah soal industri.

Jika listrik menjadi kelemahan, apa kekuatan Pangkalpinang?

Kekuatan Pangkalpinang, masyarakatnya tidak menggebu-gebu, tidak emosional, sehingga sedikit-sedikit demo. Kita adalah bangsa khas yang cepat menerima keadaan. Masyarakat di sini sangat mendahulukan pikir dan zikir daripada emosi. Maka di sini, harga BBM mau naik pun nggak ada demo, tenang-tenang saja.

Kekuatan lainnya?

Dari segi letak geografis, kita lihat frekuensi penerbangan dari Jakarta ke Pangkalpinang ada 16 kali per hari. Bandingkan saja, misalnya dengan Manado, Balikpapan, atau Pekanbaru. Frekuensi penerbangan Jakarta-Pangkalpinang pergi-pulang lebih tinggi. Dari Jakarta 45 menit sampai ke sini. Pangkalpinang juga berada di lintas 48-52 dengan Singapura. Jika Jakarta-Singapura 100, Jakarta-Pangkalpinang 48, dan 52 dari Pangkalpinang ke Singapura. Kita persis di tengah-tengah.

Timah bagaimana?

Timah bukan bagian dari kekuatan Pangkalpinang. PT Timah selama bertahun-tahun bukanlah menjadi kekuatan yang berarti. Timah ini bisa menjadi rahmat dan juga bencana tergantung cara pengolahannya. Kebanyakan hasil pengolahan timah ini, banyak lahan menjadi rusak. Tapi, di Cina, tambang timah belum diolah, menunggu tambang di negara lain habis dulu, baru mereka mengolahnya. Minyak bumi pun di Amerika Serikat belum diolah dulu, menunggu punya orang lain habis dulu barulah mereka mengolahnya dan jadilah raja mereka. Kembali ke Pangkalpinang, kekuatan yang lain ada di bidang perikanan dan sumber daya alam, serta letak geografisnya yang strategis.

Bagaimana dengan infrastruktur?

Ini contoh saja. Pada 2009 saya bertanya kepada Pak Jusman Syafii Djamal, Menteri Perhubungan waktu itu: Mengapa bandara internasional dibangun di Solo, bandara Adi Sumarmo, tapi Depati Amir di Pangkalpinang tidak? Memang berapa jumlah penumpangnya di Solo? Yang turun naik dibilang 700 ribu orang. Pada tahun yang sama, jumlah penumpang turun-naik di bandara Pangkalpinang sudah mencapai 840 ribu orang. Mengapa di sini tidak dibangun? Ini kan menimbulkan kecemburuan, karena pembangunan terkonsentrasi hanya di pusat dan Jawa.

Baik, sekarang kelemahan Pangkalpinang...

Biasa, masyarakat lokal kelemahannya kalau berjualan di pasar maunya cepat laku saja, padahal kalau pindah, nggak mau dia. Produktivitasnya juga rendah. Di sini sudah dibangun Bangka Trade Center (BTC). Ada Ramayana Department Store, tapi penduduk lokal yang bekerja di proyek konstruksinya hanya 20 persen, dan 80 persen dari luar. Di sini kualitas anak lulusan SMK pariwisata bagus sekali. Tapi, misalnya sudah bekerja di sektor pariwisata, bergaji Rp2 juta per bulan, bekerjanya sampai sore. Nah, mereka lebih memilih bekerja di counter handphone yang digaji Rp600 ribu per bulan. Mereka nggak mau pulang sore-sore. Jadi, jam kerja produktif ini harus ditingkatkan sehingga etos kerja bagus.

Infrastruktur lain seperti apa?

Ya, Pangkalpinang masih lemah di bidang sarana dan prasarana laut. Kita punya pelabuhan yang kapasitas bongkar-muatnya hanya 1.500 ton. Akibatnya harga barang jadi mahal karena komponen biaya angkut tinggi. Jadi per unit cost-nya pun lebih mahal. Pelabuhan Pangkalbalam itu lautnya terlalu dangkal seperti pantai utara Jawa. Sebab itu saya bekerja sama dengan Cina akan mereklamasi laut menjadi daratan baru seluas sekitar 2.400 hektare dengan cara mengeruk laut agar jadi lebih dalam, menjadi 22 meter. Selanjutnya bisa dibuat pelabuhan dan pergudangan.Pelabuhan Tanjungpriok saja hanya 17 meter. Kita harus bisa mengubah kelemahan menjadi kekuatan.

Kelemahan lainnya?

Pangkalpinang ini dataran rendah dan beberapa titik menjadi rawan banjir. Dulu di Pangkalpinang ada 33 kolong atau danau bekas penambangan timah. Itu penampung dan sumber air, tapi penduduknya merangsek rangsek dan sekarang tinggal 19 buah kolong dan sedimentasinya pun tinggi. Jadi semakin dangkal pula airnya. Ini bisa pula menjadi opportunity (peluang) dengan mengembangkan danau-danau tersebut menjadi objek wisata sekaligus tempat penampungan air. Tapi untuk penampungan air dan sumber air baku, maka kolong-kolong itu harus diperdalam, dibuang lumpurnya, sekaligus dapat mencegah banjir, karena daya serap air menjadi besar.

Tantangan untuk Pangkalpinang apa?

Tantangan paling berat ya listrik. Ini, terus terang saja, karena kebijakan Pemerintah untuk Indonesia yang punya 17.509 pulau sangat sulit memenuhi kebutuhan listrik misalnya di pulau Enggano, pulau-pulau di Kepulauan Tukang Besi, atau pulau-pulau di Kepulauan Sula, pulau Maya dan Kepulauan Karimata. Tidak masalah kalau PLN hanya menangani listrik pada jaringan transmisi (grid) nasional. Di luar grid nasional, kalau diberikan kebebasan kepada daerah untuk menanganinya saya yakin masalah listrik di negeri ini akan tidak separah kini. Misalnya kita membuat pembangkit melalui kerja sama dengan investor asing. Mereka cari return, kita bangun pembangkit tenaga uap begitu banyak dan safe. Atau memanfaatkan aliran sungai. Kita buka seluas-luasnya baru kita atur kemudian.

Buka dulu, kemudian baru diatur?

Ya, kita lihat misalnya bagaimana Cina membangun industri semen. Pada mulanya, hampir di tiap provinsi bisa tiga sampai lima pabrik semen dan berjalan. Ada yang bisa buat 50.000 ton. Lalu, setelah berjalan, dibuat aturan merger: semua pabrik semen di bawah produksi 500.000 ton harus bergabung jadi satu. Setelah beberapa tahun, bikin lagi kebijakan semua pabrik semen yang produksinya di bawah 1.000.000 ton harus bergabung, dan akhirnya mereka punya pabrik semen raksasa, bisa membangun infrastruktur seperti jalan layang dan jalan tol karena semen mereka banyak. Itu yang terjadi di Cina.

Kalau di Indonesia?

Tantangannya, termasuk di Bangka Belitung, masalahnya adalah pertanahan.Malaysia dapat membangun jalan tol 94 km per tahun, tapi Indonesia hanya 24 km per tahun. Di Malaysia, persoalan tanah diatur oleh negara bagian yang otonom. Di sini Undang-Undang sudah bilang otonomi, tapi kenyataanya tidak otonomi. Kalau kita ingin memajukan ekonomi, maka kita harus melihat faktor produksi. Yang pertama land (tanah), yang kedua labor (pekerja, sumber daya manusia), yang ketiga capital (modal), yang ke-empat entrepreneur (wiraswasta). Land, sebagai faktor produksi sudah jadi masalah di seluruh NKRI. Lahan di kota terbatas, dekat kota lahan sawah alih fungsi jadi perumahan, industri, efektivitas bendungan berkurang. Di daerah rural lahan cukup banyak dan sebagian merupakan aset yang dikuasai rakyat. Tapi aset itu tidak bisa cepat menjadi capital. Misalnya orang Tegal yang buka warung tegal (warteg) di Jakarta, dan mereka punya aset tanah, lahan, di desanya di Tegal atau Slawi. Lahannya itu tidak bersertifikat, hanya girik saja. Pada saat mereka mau ekspansi, perluasan usaha wartegnya, perlu kapital, tapi kapitalnya tidak didapat karena tanahnya hanya girik saja. Ini membuktikan bahwa salah satu masalah Indonesia sulit sejahtera karena aset tidak mudah menjadi kapital. Nah dalam UU No 22/1999 dan UU No 32/2004 pelayanan pertanahan diatur “didaerahkan” sebagai urusan wajib kabupaten/kota, tapi hingga kini tetap ditangani pusat dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional dan perangkat vertikalnya di kabupaten/kota. Maka, lahan kebun kelapa sawit juga banyak konflik di masyarakat.

Jadi?

Dampaknya terhadap pemerintahan nasional kan bikin ruwet saja. Jika kewenangannya di daerah, nggak usah ribut-ribut. Kalau ada apa-apa, kejar saja kepala daerahnya. Kita punya 500 lebih wali kota, bupati. dan gubernur. Pulaupulau ada sekitar 17 ribu, tapi listriknya mau dibikin semua oleh pemerintah pusat. Maka Indonesia lambat majunya. Juga soal pertanahan.

Seberapa parah masalah tanah ini?

Hal ini jelas, misalnya pada proyek Banjir Kanal Jakarta, Rencana Jalan Tol di Selatan Jabar-Jateng, Rencana Bandara Kualanamu.

Di Pangkalpinang bagaimana?

Di Pangkalpinang dan Babel juga terjadi. Misalnya untuk pembangunan Kantor Lurah, TK/SD Internasional, jalan lingkar Timur Pangkalpinang dan perluasan Bandara Depati Amir. Apa lagi nanti dengan berlakunya UU No 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan Tanah bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum sejak 14 Januari 2012, pengadaan tanah dimaksud tidak lagi dilakukan oleh Panitia 9, tetapi oleh BPN. Sementara BPN tidak dikenal masyarakat termasuk para Kades dan Lurah serta RT/RW yang sangat mengetahui keberadaan dan riwayat lahan. Akibatnya, sangat mungkin hal itu memperlambat pelaksanaan proyek dan menurunkan lagi daya serap anggaran.

Apakah hanya itu?

Penyebab lain tentu ada, seperti petunjuk tekni (juknis) yang sangat lambat keluarnya dan sangat dominannya fungsi pengawasan, sehingga tidak seimbang dan tidak harmonisnya pelaksanaan seluruh fungsi manajemen. Hambatan itu dapat dilihat dari kecilnya daya serap (absorbsi) anggaran dan banyaknya PNS yang tidak bersedia menangani proyek. Juga sekarang ini tampak sekali sebagian bangsa kita sangat senang menjelek-jelekan bangsa sendiri. Kalau kita tidak bisa mengatasi tantangan tantangan tadi, bangsa kita tidak akan cepat makmur malah terus terpuruk. Tadi saya baru meresmikan Unit Donor Darah/Unit Transfusi Darah PMI di RSUD Depati Hamzah Pangkalpinang. Bayangkan untuk kantong darah, kita masih impor padahal produksi karet alam kita begitu bagus, juga aspal kita beli dari Singapura, padahal di dunia hanya ada tiga tempat tambang aspal yaitu Trinidad, Buton dan USA (Colorado). Yang di Trinidad diusahakan Singapura, sedangkan aspal Buton baru produksi granular saja. Aneh dan menyedihkan bukan?

Apa kelemahan Pangkalpinang yang paling merisaukan Anda?

Pertama, ancaman banjir dan air genangan. Kalau hujan sedikit saja, beberapa bagian Pangkalpinang ini banjir. Mengapa demikian? Salah satunya, daya serap air di daerah ini terlalu sedikit. Kedua, penambangan atau eksploitasi di hinterland, pinggir kota, masuk lumpurnya ke badan sungai dan kolong di Pangkalpinang. Akibatnya daya tampung air rendah sungai dan kolong semakin dangkal daya tamping air menurun. Kondisi tanah Pangkalpinang, sekitar 10 persen daerahnya berada di bawah permukaan laut, makanya merisaukan.

Selanjutnya?

Pelabuhan Pangkalbalam. Kalau kapasitasnya tidak bisa dinaikkan, bikin risau semuanya, bagi saya dan bagi orang Bangka Belitung. Apalagi Provinsi sekarang membuat jembatan Baturusa II, yang di atas sungai itu, ketinggiannya hanya 15 meter di atas permukaan laut. Saya gugat, kenapa? Bisa mati pelabuhan Pangkalbalam. Jembatan Baturusa II ini juga mau saya persoalkan, mengapa provinsi membangun jembatan tanpa izin dari perhubungan laut. Boleh saja dibuat, tapi jangan jembatan yang tutup-buka itu. Buatlah jembatan yang tingginya, misalnya 60 meter dari permukaan sungai.

Apa saja yang Anda lakukan selama menjadi Wali Kota?

Pada periode pertama (2003-2008), di bidang pendidikan wajib belajar sampai 12 tahun dan bebas buta aksara Al-quran. Kemudian masih di periode 2003-2008, mengatasi ancaman banjir dan air genangan tadi, dan masalah kemiskinan. Semula ada 849 keluarga prasejahtera, pada 2008 keluarga prasejahteranya tinggal 120 keluarga, lalu sekarang tinggal 27 keluarga. Usia harapan hidup di Pangkalpinang ini sekarang 70 tahun dari sebelumnya 63 tahun. Lantas saya kembangkan kawasan rekreasi Mendara yang berasal dari tanah lumpur hasil sedimentasi dari hulu dan dikeruk. Lumpurnya dibuang dengan biaya Rp 170 miliar. Itulah kawasan rekreasi Mendara. Jembatan Pahlawan 12 dan Plaza Pangkalpinang, kolam retensi Kacang Pedang selesai pada masa jabatan pertama dan diresmikan oleh Pak Agung Laksono. Bangka Trade Center (BTC) idenya sejak 2006 tapi terealisasi pada periode ke-2. Lantas fasilitas olahraga terbangunlah stadion Depati Amir. Sebelumnya sudah dibangun tapi tidak selesai- selesai sejak 1982.

Pendidikan di sini bagus ya?

Ya, mulai 2011, Pangkalpinang menerapkan wajib belajar hingga 15 tahun. Minimal warga Pangkalpinang berpendidikan D-3. Selain itu, sekarang setiap sekolah memilik akses internet. Di sini Wi Fi (wireless fidelity, akses internet tanpa kabel) bukan hal baru, di setiap sekolah sudah ada itu, dibiayai oleh APBD Kota. Selain itu, sudah ada 56 titik hot spot Wi Fi gratis. Anda tahu, di sini pernah berlangsung parade laptop dan mendapat rekor Museum Rekor Indonesia dengan 1.666 laptop. Acaranya di depan Rumah Dinas Wali Kota. Pangkalpinang adalah Educational Cybercity pertama di Indonesia dan ada juga Edotel, hotel pelatihan di SMK Negeri Pariwisata yang masuk 10 terbaik Indonesia.

Selain itu?

Saya sedang membangun Science Centre and Technopark. Di empat kota Indonesia sudah ada science centre, tetapi science centre and technopark belum ada. Kami juga mengembangkan kawasan industri Ketapang dan TPI (tempat pelelangan ikan) di Muara Baturusa.

Bagaimana kualitas dan fasilitas pendidikan di Pangkalpinang?

Kalau fasilitas pendidikan, di sini nggak ada gedung sekolah yang reot, hampir roboh. Kalau kursinya kurang bagus ya ada.

Link and match pendidikannya bagaimana?

Itulah orang sini, seperti yang saya bilang tadi, etos kerjanya rendah. Kita punya sekolah perikanan, misalnya. Tamat sekolah perikanan, diminta oleh perusahaan perikanan di pantai utara Jawa. Eh ibunya bilang, nggak usah kerja jauh-jauh. Akhirnya perusahaan perikanan marah kepada kepala sekolah di sini.

Indeks pembangunan manusia?

Untuk IPM, saya beritahukan bahwa Pangkalpinang meraih Millenium Development Goals (MDGs) Award, pada 2010. Hanya empat kota yang meraih itu: Tarakan, Pangkalpinang, Sukabumi dan Blitar, dan itu karena pendidikan. Human Development kita termasuk tertinggi. Dari sekitar 70-an kota, kita masuk 10 teratas. Angka mortalitas ibu dan anak terendah di seluruh Sumatera.

Fasilitas layanan kesehatan, gratis jugakah?

Kita nggak gratis. Jadi Rumah Sakit Umum Daerah Depati Hamzah ini BLU (Badan Layanan Umum) Daerah. Di sini ada RS Bhakti, RS PT Timah Tbk, kemudian ada rumah sakit bersalin atau klinik-klinik ibu dan anak, kemudian medical center. Posyandu juga aktif, rata-rata setiap pos melayani 118 orang. Jadi, kualitas kesehatan itu tercermin dari usia harapan hidup.

Program Wali Kota periode II?

Periode II (2008-2013) yang saya lanjutkan pertama kali Waterfront City, kemudian wajib belajar 15 tahun, peningkatan pendidikan RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar International) di Pangkalpinang. Yang RSBI di sini cukup banyak yaitu SMK Negeri 3 Pariwisata, SMA Negeri 1,SDN 10. Kemudian penambahan sekolah, saya buat SMK 4 bidang pariwisata yang lengkap dengan hotel pelatihan. Di Indonesia ada 22 SMK sejenis dan kita masuk 10 terbaik nomor satu untuk hotel pelatihan. Di ujung periode II ini saya juga menambah satu SMK bidang perikanan dan kelautan sekarang sudah bagus sekali. Satu lagi SMK saya bangun pada 2011. Jadi, ada lima SMK. Yang terakhir itu bidang kesehatan dan farmasi, sedang dibangun gedungnya sekarang. Tahun depan sudah bisa beroperasi. Pada periode kedua juga saya menyelesaikan persoalan pasar ikan, kemudian memperbaiki rumah sakit yang sudah 29 tahun tak ada perubahan. Kemudian taman hutan kota seluas 163 hektare, lebih luas dari Kebun Raya Bogor. Lantas, kita membangun kantor Wali Kota bernama Gedung Tudung Saji (empat lantai), kantor beberapa dinas dan badan serta kantor Gabungan Dinas (GADIS), memperluas wilayah kota dari 89,4 km2 menjadi 118,4 km2, menata pemerintahan dari lima menjadi tujuh kecamatan dan dari 36 menjadi 42 kelurahan. Kita juga membangun Alun-Alun Taman Merdeka (ATM), satu TK/SD Internasional, melanjutkan pembangunan Tampukpinang Pura dan sedang dipersiapkan pembangunan terminal penumpang angkutan darat dan meningkatkan produksi air PDAM.

Ada hutan kota, juga Bangka Botanical Garden?

Di timur terdapat Bangka Botanical Garden, dan taman hutan kota di barat. Bangka Botanical Garden itu luasnya 300 ha kepunyaaan Johan Ridwan Hasan, perorangan. Di situ dipelihara sapi susu dan 700 cup susu tiap hari gratis untuk anak SD. Ada juga kebun buah naga, tempat pemancingan, dan bagaimana mengubah kompos menjadi energi, dan belajar menanam kol dan bawang merah di sini. Lalu padinya bisa 4,5 ton per ha meski ditanam di atas pasir. Semua diolah pakai kompos. Saya perjuangkan dia dan akhirnya mendapat penghargaan Kalpataru.

Hutan kota sendiri bagaimana?

Kawasan taman hutan kota akan menjadi kawasan rekreasi, dan yang terakhir akan menjadi hutan riset. Hutan kota itu tak akan mengurangi lahan permukiman karena dalam periode kedua ini saya juga membangun Rusunawa (Rumah Susun Sederhana Sewa), buat menampung orang miskin. Rusunawa ini menjadi yang terbaik di Indonesia karena di beberapa kota lain luas per unitnya hanya 21 m2 dan hanya dua lantai, Di sini luasnya 24 m2 dan empat lantai, penghuninya 196 kepala keluarga. Kita sudah membangun dua towers, dan dua towers lagi mau selesai.

Pengelolaan sampah dan penghargaan Adipura?

Kalau ekonomi tumbuh maka sampah pun akan semakin banyak. Persoalannya memang bagaimana cara pengolahannya. Ada tempat pengolahanya di Pangkalpinang ini, tapi menurut saya perlu ditingkatkan. Toh sejak 2008 Pangkalpinang berhasil mempertahankan Adipura secara berturut-turut. Lantas empat sekolah meraih anugerah Adiwiyata.

Ngomong-ngomong, ada beberapa ruas jalan yang satu arah di sini ya?

Ya, dalam periode kedua ini saya mengatur tertib berlalu lintas yaitu jalan satu arah. Ada yang menentang, yaitu yang toko atau kedainya kurang laku dibandingkan ketika lalu-lintas masih dua arah. Tapi ini jalan terus, biarkan masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan lalu lintas ini.

APBD Pangkalpinang berapa ya?

Total APBD sudah mencapai Rp577 miliar dari Rp166 M di awal saya menjadi Wali Kota. PAD-nya dari Rp12 M menjadi Rp67 M. Sumbernya yang terbesar dari pajak hotel dan restoran, yang kedua pajak penerangan jalan. Salah satu cara peningkatan PAD-nya adalah membentuk perusahaan daerah. Nanti perusahaan daerah itu yang akan membuat hotel-hotel, mengusahakan pasar-pasar tradisional, sampai ke balai benih ikan. Konsepnya sudah mulai jalan.

Bantuan Provinsi bagaimana?

Jujur saja Pemerintah Provinsi Bangka Belitung lebih memfokuskan pada kabupaten sehingga sedikit sekali mengalokasikan dana untuk Pangkalpinang, per tahun tak sampai Rp2 miliar. Untuk kabupaten, rata-rata Rp15 miliar per tahun.

Dari segi infrastruktur apa saja yang telah berkembang selama dua periode Anda sebagai Wali Kota?

Untuk infrastruktur jalan, setiap tahun penambahan panjangnya rata-rata 10 persen dari tahun sebelumnya. Tentu saja dengan sistem drainasenya. Infrastruktur perdagangan, kita kembangkan pasar tradisional, Pasar Parit Lalang, Pasar Rumput, Pasar Air Hitam dan Pasar Pagi, jumlahnya ada empat. Yang pasar modern bukan dari biaya kita, itu pakai BOT (Build, Operate, Transfer), seperti Pasar Harmoni Shoping Arcade, juga BTC. Sedangkan infrastruktur air minum, PDAM Pangkalpinang menjalin kerja sama dengan Darco International Corporation Singapura.

Anda tampaknya memiliki jaringan bisnis dan hubungan luar negeri yang bagus ya?

Selain pernah menjadi Wakil Ketua I bidang pemerintahan dan otonomi daerah di Apeksi (Asosiasi Pemerintahan Kota Seluruh Indonesia) saya juga salah seorang pendiri Citynet Indonesia. Sekarang kita masih menjadi anggota Citynet Asia Pasifik dan Timur Jauh. Ketuanya Wali Kota Yokohama, Jepang. Kongres yang akan datang berlangsung di Korea.

Tapi, Anda tampak terkesan sekali dengan Cina?

Saya sudah lebih 20 kali ke Cina dalam rangka merealisasikan Waterfront City (kota tepian pantai) di Pangkalpinang juga kerja sama pendidikan berupa 10 sister school dan sister city. Sedangkan Waterfront City bukan hanya sekadar pariwisata, melainkan sebuah kota baru. Luasnya sekitar 2.400-2.500 ha, lebih luas dari Kecamatan Tanah Abang di Jakarta. Kelak ini akan menjadi kota perdagangan, pergudangan, pariwisata, dan simpul tranportasi.

Apa sebenarnya Waterfront City di Pangkalpinang itu?

Ide Waterfront city itu dimulai pada 2006. Rencananya, laut dangkal di pantai Pasir Padi secara teknis dibuat alur pondasi. Di dasar 22 meter dan di atas 12 meter. Limbah pengerukannya menjadi lahan reklamasi, luasnya sekitar 2.400 hingga 2.500 hektar dan akan disekat-sekat untuk kawasan perhotelan, properti, termasuk permukiman dan pergudangan. Akan disisihkan juga lahan untuk bandara sekitar 300 ha seperti di Kai Tak, Hongkong setelah tahap awal selesai.

Bagaimana pembiayaannya, menggunakan sistem BOT juga?

Dari swasta semuanya, investor swasta domestik bekerja sama dengan korporasi investor swasta dari Cina. Dia mengeluarkan dan kemudian mencari mitra dan tanah 2.000 ha. Pasti 800 ha menjadi fasilitas umum. Sekitar empat tahun dari peresmian proyeklah baru kelar. Ini proyek raksaksa, tapi untuk Cina biasa-biasa saja.

Lantas?

Mereka dapat pengganti costnya dari tanah yang mengandung timah. Timahnya ambillah untuk mereka. Biayanya kira-kira hampir Rp 2,9 triliun. Silakan ambil timahnya, tanahnya untuk reklamasi laut tanpa menghalangi alur pelayaran. Jujur sudah enam tahun saya mengurusnya dan tidak ada bantuan dari pemerintah. Akhirnya yang dari Tianjin Beijing inilah yang jadi. Insya Allah jadi.

Jadi, Waterfront City itu proyek properti dong?

Dan sekarang sektor properti di Pangkalpinang sedang berkembang. Waktu saya mulai menjadi Wali Kota, perusahaan real estate hanya ada dua. Sekarang sudah 14 termasuk Ciputra masuk. Harga tanahnya dulu per kaveling, sekarang harga tanah dihitung per meter.

Apakah Anda memiliki model kota ideal untu diwujudkan di sini?

Kota ini memiliki potensi bagus. Tapi, selama kewenangan pertanahan nggak ada pada kita, itu nggak bisa menjadi kota ideal yang warganya rukun beribadah, etos kerja juga baik, seperti filsafat Kong Hu Cu itu.

Apa kata Kong Hu Cu?

Kong Hu Cu bilang, kota ideal adalah “Jika klewang dan bedil pada berkaratan, penjara ditumbuhi oleh ilalang, ruang sidang pengadilan dipenuhi debu dan sarang laba-laba, bila bajak dan luku diganti deru mesin pertanian, bila dokter-dokter berjalan kaki dan tukang roti naik sepeda, bila lantai rumah peribadatan lusuh oleh jemaah.” Itulah pertanda kota diurus dengan adil dan bijaksana.

Apakah model kota ideal sudah disosialisasikan kepada warga?

Kalau kota jasa, yang sangat menentukan adalah sikap dan perilaku masyarakatnya. Misalnya Bukittinggi, Sumatera Barat. Ucapan “Selamat datang di Bukittinggi Kota Wisata” sudah seperti salam resmi di pengumuman malah di handphone. Jika ada turis misalnya dari Jerman bertanya kepada anak kecil: “Nak, di mana Pasar Atas?” Anak itu akan mengantarnya. Bayangkan, itu Bukittinggi. Kota jasa, yang memberikan pelayanan adalah manusia dibantu alat-alat. Manusia itu harus baik sikap dan perilakunya dan harus menyesuaikan diri dengan peran kotanya.

Nah, kalau di sini bagaimana?

Yang begini kita mulai dari pendidikan. Karena kita menjadi daerah jasa kita sosialisasikan dari sekolah. Sekolah itu ada tiga fungsinya: Pertama, fungsi konservasi, yaitu mengawetkan hal-hal yang baik. Kedua, fungsi inovasi, membuat penemuan-penemuan baru. Yang ketiga, fungsi seleksi. Selain itu, resep memimpin kota: pertama peduli, kedua berbagi, ketiga saya harus fair (care, share, fair). Maksudnya, semua warga harus peduli tentang Pangkalpinang, tidak boleh masa bodoh. Lalu semua mempunyai andil dan peran dalam pembangunan. Semua dilakukan secara fair. Saya mengundang pers, setiap tahun mengajak warga dari tingkat RT dan RW keliling Pangkalpinang sambil mensosialisasikan nilai-nilai yang sesuai dengan perkembangan kota agar tertanam kepada seluruh warga dan menginformasikan pembangunan kota.

Apakah Anda mempersiapkan figur untuk melanjutkan pembangunan Pangkalpinang?

Saya mempersiapkannya. Tapi, sangat susah sekarang ini. Karena pengaruh partai politik, orang yang baik belum tentu terpilih. Jadi, lebih baik saya tenang dulu sampai keadaan mengkristal. Saya toh masih punya kekuasaan yang didukung oleh Partai Demokrat. Di sini Demokrat dapat mengajukan calon Wali Kota tanpa berkoalisi dengan partai lain. Biarkan prosesnya berjalan, sebab saya ingat kata-kata dari Singathamby Rajaratnam, Deputi PM Singapura: Bagi seseorang yang menggantikan orang lain selalu tersedia sepasang sepatu. Apabila kakinya terlalu besar berarti dia lebih sukses karena langkahnya bisa lebih panjang. Tapi, jika kakinya terlalu kecil, maka ia akan berada di bawah payung kebesaran orang sebelumnya.

Setelah Anda menjadi Wali Kota dua periode, apa yang dapat jadi kebanggan warga Pangkalpinang?

Yang dapat menjadi kebanggaan warga Pangkalpinang, kota ini mempunyai lembaga pendidikan yang begitu baik, dan pernah mempunyai Wali Kota yang begitu kaya gagasan menurut banyak tokoh di Pangkalpinang dan Bangka Belitung, dan itu semua tak kasat mata. Rakyat kan tahunya BLT (bantuan langsung tunai) dan BTC.

Jika sudah tidak menjadi Wali Kota, apa rencana Anda?

Tadinya saya bisa saja mencalonkan diri menjadi anggota DPR-RI . Tapi, nggak usahlah. Berikan kesempatan untuk anak muda saja. Saya juga ditawari untuk menjadi Bupati Bangka (induk), dan saya berpikir: Apakah saya layak jadi bupati, apa perlu, dan apa nggak bosan? Tapi, memang kalau keadaan begitu mendesak maka saya akan berbakti pada negara. Masa kerja saya 37 tahun sudah. Di Kabupaten Bangka 28 tahun dan di Pangkalpinang sembilan tahun. Tapi pola pikir saya sudah urban, bukan rural lagi. Kalau urban, dinamikanya cepat, seperti bisnis dan perdagangan, sementara rural kan pertanian, harus menunggu musim dulu.

Nilai artikel ini
(0 Penilai)

Artikel terbaru dari Gunawan Effendi

Yang lain di kategori ini: « Edi Langkara

Silakan berkomentar

Pastikan Anda mengisi kotak bertanda bintang.
Silakan gunakan kode HTML dasar.